Proyek SPAM di Kota Parepare Menawarkan Peluang Investasi yang Menguntungkan
Pemerintah Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) membuka peluang kerja sama bagi para investor yang tertarik berinvestasi pada proyek Sistem Penyediaan Air Aman (SPAM). Proyek ini bertujuan untuk menyediakan air minum yang dapat langsung dikonsumsi dari keran, sehingga menjadi solusi berkelanjutan terhadap berbagai masalah lingkungan, kesehatan masyarakat, dan efisiensi pelayanan publik.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Parepare, Siti Rahmah Amir menjelaskan bahwa SPAM dirancang untuk memberikan layanan air yang lebih ekonomis dan transparan. Biaya air yang dialirkan melalui SPAM hanya sebesar Rp300 per liter atau sekitar Rp300.000 per meter kubik, yang jauh lebih murah dibandingkan rata-rata biaya air isi ulang galon sebesar Rp315 per liter atau Rp315.000 per meter kubik. Bahkan, harga tersebut jauh di bawah harga air isi ulang dari merek-merek ternama yang biasanya mencapai di atas Rp1.000 per liter atau Rp1 juta per meter kubik.
Teknologi yang digunakan dalam proyek SPAM telah memenuhi standar World Health Organization (WHO) dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 2/2023. Dengan demikian, air yang disediakan diharapkan aman untuk dikonsumsi langsung. Target pelanggan SPAM adalah rumah tangga, sektor pemerintahan, industri kecil atau UMKM, sektor pariwisata seperti hotel dan restoran, serta beberapa tempat umum. Hal ini menjadikan SPAM sebagai proyek yang sangat menguntungkan baik bagi investor maupun masyarakat.
Pemerintah Kota Parepare mengajak pihak-pihak yang ingin berinvestasi senilai Rp168,1 miliar. Kerja sama dilakukan melalui skema Business to Business (B2B) dengan Perusahaan Air Minum (PAM) Tirta Karajae, dengan kontrak selama 20 tahun. Berdasarkan perhitungan, kembali modal diperkirakan hanya dalam waktu 9 tahun. Artinya, proyek ini tidak hanya menjanjikan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan jaminan keberlanjutan pelayanan air minum aman kepada masyarakat.
Lokasi proyek SPAM telah disiapkan di atas lahan seluas 14.030 meter persegi. Status lahan tersebut adalah milik Pemerintah Kota Parepare dengan legalitas hak pakai. Sumber air yang digunakan berasal dari Sungai Salo Karajae dengan kapasitas produksi awal sebesar 300 liter per detik. Namun, saat ini kapasitas produksi air mengalami penurunan akibat robohnya bendungan Salo Karajae beberapa waktu lalu, sehingga kapasitas produksi hanya tersisa 150 liter per detik.
Kondisi ini berpotensi mengurangi proyeksi jumlah pelanggan karena ketersediaan air baku yang tidak cukup. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Parepare membuka opsi untuk investasi bendungan terlebih dahulu dengan perkiraan biaya sekitar Rp18 miliar. Jika ada investor yang tetap ingin membangun SPAM, estimasi biayanya akan meningkat hingga sekitar Rp176 miliar.
Plt. Direktur PAM Tirta Karajae Kota Parepare, Juhanna menjelaskan bahwa teknologi untuk menghasilkan air aman sudah tersedia di laboratorium PAM Tirta Karajae. Melalui berbagai rangkaian uji coba, air tersebut dinyatakan aman untuk dikonsumsi secara langsung. Namun, untuk disalurkan ke masyarakat, belum dianggap layak karena jaringan pipa milik PAM Tirta Karajae sudah mulai korosi dan mengalami penumpukan sedimen. Oleh sebab itu, perlu adanya investasi agar air aman bisa memiliki jaringan pipa sendiri yang tidak terkontaminasi dengan apa pun.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda mengungkapkan bahwa SPAM Parepare merupakan salah satu proyek investasi paling menjanjikan di Sulsel. Investment Project Ready to Offer (IPRO) proyek ini telah disusun dan teruji, mencakup detail proyek, kelayakan, hingga potensi keuntungan yang menjanjikan. Proyek ini menjadi salah satu proyek paling potensial yang dipilih oleh Forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (Pinisi Sultan) dalam kurasi proyek investasi strategis di seluruh kabupaten dan kota, yang dilaksanakan sejak Mei hingga Agustus 2025.

Tinggalkan Balasan