Pelajar SMK di Garut Diduga Terpapar Paham Radikal, Diamankan dan Diberikan Pembinaan

Seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Garut diduga terpapar paham radikalisme. Saat ini, pelajar tersebut telah diamankan dan diberikan pembinaan oleh pihak kepolisian. Peristiwa ini memicu perhatian serius dari Pemerintah Daerah setempat untuk mengambil langkah-langkah antisipatif dalam menjaga lingkungan pendidikan.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyampaikan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan dugaan masuknya ideologi radikal pada seorang siswa. Ia menekankan bahwa tindakan yang dilakukan merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperkuat pembinaan di lingkungan pendidikan, baik itu SMA, SMK maupun perguruan tinggi.

Menurut Syakur, berdasarkan indikasi awal, pelajar tersebut tidak hanya terpengaruh oleh ideologi radikal, tetapi juga menunjukkan kecenderungan perilaku yang mengarah pada tindakan ekstrem. Hal ini membuat pihaknya merasa perlu untuk segera mengambil tindakan.

“Kami sangat prihatin. Anak tersebut sudah terpengaruh pemikiran radikal dan mulai menunjukkan kecenderungan aktivitas ekstrem,” ujarnya pada Sabtu 27 Desember 2025.

Syakur menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah melakukan koordinasi awal dengan aparat kepolisian serta instansi terkait guna menindaklanjuti persoalan tersebut. Selain itu, pihaknya berencana memperketat program pembinaan, khususnya dalam menanamkan nilai nasionalisme dan cinta tanah air bagi pelajar SMA dan SMK.

“Komunikasi sudah dilakukan, dan ke depannya pembinaan rasa cinta tanah air akan lebih intensif untuk anak-anak SMA dan SMK,” tambahnya.

Penanganan Kasus Dilakukan Secara Hati-Hati

Penanganan kasus ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena yang bersangkutan masih berstatus sebagai anak di bawah umur. Proses penanganannya tidak disamakan dengan kasus serupa yang melibatkan orang dewasa.

“Bersangkutan masih anak di bawah umur, penanganannya tentu berbeda dan tidak bisa disamakan dengan kasus orang dewasa,” jelas Syakur.

Untuk menangani kasus ini, pihak pemerintah mengarahkan penanganan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Pendekatan yang digunakan lebih menitikberatkan pada aspek sosial dan pembinaan karakter.

“Ya, untuk itu kami arahkan ke PPA. Pendekatannya lebih ke pembinaan dan kedekatan sosial, apalagi saat ini masih masa libur,” ujarnya.

Dugaan Keterkaitan dengan Jaringan Terorisme

Menurut Syakur, dugaan tersebut diperkuat oleh adanya nota dinas dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Garut, yang mengindikasikan keterkaitan dengan jaringan terorisme.

“Ada nota dinas dari Kesbangpol yang mengarah pada indikasi tersebut,” ungkapnya.

Meski demikian, penanganan kasus ini tetap dilakukan secara hati-hati dan tidak mengabaikan hak-hak anak di bawah umur.

Langkah Pencegahan di Dunia Pendidikan

Syakur menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk memperkuat upaya pencegahan di dunia pendidikan, tidak hanya di tingkat sekolah menengah, tetapi juga hingga perguruan tinggi.

“Ke depan harus ada langkah yang lebih serius dan berkelanjutan untuk melindungi anak-anak kita, baik pelajar SMA/SMK maupun mahasiswa,” kata Syakur ditemani Kepala Kesbangpol Garut, Nurrodhin di Komplek Pendopo.

Tindakan Lanjutan

Pemerintah Daerah Kabupaten Garut berkomitmen untuk terus memantau situasi dan memberikan pembinaan yang optimal kepada para pelajar. Dengan adanya kasus ini, diharapkan mampu menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya penguatan nilai-nilai kebangsaan dan anti-radikalisme di kalangan generasi muda.