Sejarah Hari Sinterklas di Indonesia
Hari Sinterklas, yang dirayakan setiap 5 Desember, adalah salah satu tradisi yang pernah hidup dan dirayakan oleh masyarakat Indonesia, terutama pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan. Meskipun tidak sepopuler Natal, tradisi ini memiliki makna penting dalam sejarah budaya Indonesia.
Hari Sinterklas merupakan warisan budaya dari Belanda. Selama ratusan tahun, masyarakat Belanda merayakan pesta ini sebagai malam penuh hadiah dan kegembiraan bagi anak-anak. Dalam cerita mereka, Sinterklas digambarkan datang bersama pembantunya, Zwarte Piet (Piet Hitam), berlayar menggunakan kapal uap menuju Belanda, lalu masuk ke rumah-rumah melalui cerobong asap untuk membagikan hadiah.
Tradisi ini ikut dibawa ke Indonesia saat Belanda menjajah Nusantara, dan kemudian dijalankan oleh orang-orang Belanda, Indo-Belanda, serta sebagian umat Kristiani di Hindia Belanda. Namun, karena kondisi rumah di Indonesia berbeda dan tidak memiliki cerobong asap, tradisi tersebut mengalami penyesuaian.
Adaptasi Tradisi: Sepatu, Rumput, dan Jendela Rumah
Anak-anak menaruh sepatu berisi rumput di bawah jendela rumah sebagai tanda agar Sinterklas meletakkan hadiah di sana pada malam hari. Setiap tanggal 5 Desember, perayaan Hari Sinterklas berlangsung meriah. Warga Belanda dan Indo-Belanda menggelarnya dengan pesta keluarga, nyanyian, hingga arak-arakan.
Faktanya, perayaan Hari Sinterklas masih bertahan hingga dekade 1950-an, menjadi bagian dari rutinitas tahunan kelompok masyarakat tertentu di Indonesia. Kesaksian sejarah menunjukkan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual orang dewasa, tetapi benar-benar hidup dalam imajinasi dan kebahagiaan anak-anak di Indonesia kala itu.
Kenangan Anak-Anak dan Kesaksian Sejarah
Dalam biografi Achmad Yani Tumbal Revolusi (1988), Amelia Yani, putri Jenderal Achmad Yani, mengenang Hari Sinterklas sebagai momen yang paling dinantikan anak-anak pada masa itu. “Kami percaya Sinterklas akan datang tengah malam dan mengirim banyak hadiah,” tulis Amelia. Kesaksian ini menunjukkan bahwa Hari Sinterklas bukan sekadar tradisi orang dewasa, melainkan benar-benar hidup dalam imajinasi dan kebahagiaan anak-anak di Indonesia kala itu.
Namun, kegembiraan tersebut berakhir secara tiba-tiba pada tahun 1957.
Irian Barat, PBB, dan Sentimen Anti-Belanda
Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1999) mencatat bahwa memburuknya hubungan Indonesia–Belanda dipicu oleh kegagalan diplomasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait status Irian Barat, yang saat itu belum menjadi bagian dari Indonesia. Kegagalan tersebut memicu kemarahan Presiden Soekarno dan melahirkan sentimen anti-Belanda di dalam negeri.
Dua hari setelah keputusan PBB yang tidak menguntungkan Indonesia, Kabinet Djuanda mulai membahas langkah-langkah balasan terhadap Belanda. Pemerintah kemudian:
- Mencabut hak pendaratan pesawat maskapai Belanda
- Melarang peredaran surat kabar dan film Belanda
- Membiarkan serikat buruh mengambil alih perusahaan-perusahaan milik Belanda pada 3 Desember 1957
5 Desember 1957: Sinterklas Hitam
Puncak ketegangan terjadi pada 5 Desember 1957, yang secara simbolik bertepatan dengan Hari Sinterklas. Pada hari itu, Presiden Soekarno, melalui Departemen Kehakiman, mengusir sekitar 46.000 warga Belanda yang masih tinggal di Indonesia. Tanggal yang biasanya diisi dengan pertukaran hadiah dan nyanyian berubah menjadi hari kepanikan dan duka. Peristiwa ini kemudian dikenang dengan sebutan Sinterklas Hitam.
Di tengah tekanan dan situasi yang memburuk, banyak warga Belanda mencairkan tabungan mereka, membeli tiket pesawat, atau berebut tempat di kapal laut untuk segera meninggalkan Indonesia.
Punahnya Sebuah Tradisi
Seiring hengkangnya warga Belanda dari Indonesia, perayaan Hari Sinterklas setiap 5 Desember—yang identik dengan kemunculan Sinterklas dan Zwarte Piet—perlahan menghilang dari kehidupan sosial masyarakat. Tanpa komunitas pendukungnya, tradisi itu akhirnya benar-benar punah dan tidak pernah kembali hingga hari ini.
Hari Sinterklas di Indonesia pun tinggal catatan sejarah: sebuah tradisi yang pernah hidup, dirayakan, lalu hilang karena pergolakan politik dan sejarah nasional.

Tinggalkan Balasan