Persebaya Surabaya Memiliki Tiga Gelandang Muda Potensial

Persebaya Surabaya sedang menghadapi tantangan berat dalam menjaga kualitas dan kestabilan performa tim. Kekalahan yang terjadi dalam laga melawan Borneo FC 2-2 di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (20/12), menjadi momen penting bagi Green Force. Meskipun tampil dominan di babak kedua, mereka gagal mempertahankan poin penuh, sehingga kini bertengger di posisi keenam dengan raihan 19 poin.

Di balik kekecewaan tersebut, muncul harapan besar dari lini tengah Persebaya Surabaya. Tiga gelandang muda hasil didikan internal mulai menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk menjadi fondasi masa depan klub.

Moch Ichsas Baihaqi: Gelandang Tengah yang Fleksibel

Moch Ichsas Baihaqi adalah salah satu pemain muda yang menonjol. Seorang gelandang berusia 18 tahun ini memiliki sentuhan bola rapi dan visi umpan ke depan yang menjanjikan. Musim ini, Ichsas telah tampil tiga kali dengan total 72 menit bermain, akurasi operan mencapai 76 persen, dan nilai pasar sebesar Rp 869,08 juta.

Ichsas berposisi utama sebagai gelandang tengah, tetapi ia juga mampu bermain sebagai gelandang serang maupun bertahan. Fleksibilitas ini membuatnya terlihat matang secara permainan meski usianya masih sangat belia.

Toni Firmansyah: Stamina Tinggi dan Konsistensi

Toni Firmansyah, seorang gelandang berusia 20 tahun asal Surabaya, dikenal memiliki stamina dan daya jelajah tinggi. Dia piawai mengalirkan bola dari belakang ke depan dengan konsistensi yang mulai stabil di level tertinggi.

Musim ini, Toni telah tampil 11 kali dengan total 759 menit bermain bersama Persebaya Surabaya. Catatan akurasi operan 85 persen, empat keypass, dan nilai pasar Rp 2,17 miliar menegaskan perannya sebagai motor lini tengah.

Sadida Nugraha Putra: Ketangguhan dalam Duel Udara

Sadida Nugraha Putra, seorang gelandang bertahan berusia 20 tahun, memiliki keunggulan membaca permainan. Posturnya setinggi 175 sentimeter membuat Sadida kuat dalam duel udara dan disiplin saat melakukan intersep maupun tekel.

Sadida mencatat tujuh penampilan dengan total 240 menit bermain musim ini bersama Persebaya Surabaya dengan nilai pasaran Rp 434,54 juta. Akurasi operan mencapai 87 persen dengan satu keypass dan hanya satu kartu kuning, angka yang mencerminkan ketenangan bermain.

Harapan Masa Depan

Secara komposisi, ketiga pemain ini bisa saling mengisi jika diberi ruang berkembang bersama. Andai ada kompetisi pendamping seperti Piala Indonesia, mereka ideal untuk diturunkan bersamaan saat menghadapi klub kasta lebih rendah.

Pertanyaan menarik pun muncul, apakah sudah waktunya trio muda ini dipasang bersamaan di Super League. Keberanian memberi menit bermain berkelanjutan bisa menjadi investasi jangka panjang yang sangat berharga.

Respons Bonek menunjukkan harapan besar terhadap para pemain muda tersebut. Beberapa penggemar menyampaikan bahwa Ichas lebih sering dikasih menit bermain dan prospek mental bermainnya oke. Dukungan lain menyoroti pentingnya proteksi kontrak agar aset klub tidak lepas percuma.

Pujian terhadap kualitas teknis Ichsas juga mengalir deras dari tribun. Beberapa Bonek menyebutkan bahwa ketenangan Ichas dalam mengambil umpan terobosan sangat luar biasa. Harapan pengembangan jangka panjang terus disuarakan dengan nada yang sama.

Seruan paling tegas datang dari Bonek yang ingin manajemen bergerak cepat. Mereka meminta kontrak langsung selama 3 hingga 5 tahun agar aset klub dapat terjaga.

Kontrak jangka panjang kini menjadi pagar penting agar Persebaya Surabaya tidak mengulang kisah pahit masa lalu. Perpindahan Rizky Ridho ke Persija Jakarta pada musim 2023/2024 masih menjadi luka yang relevan untuk dijadikan pelajaran.