Peristiwa Kontroversial yang Melibatkan Adimas Firdaus

Adimas Firdaus alias Resbob kini menjadi sorotan publik setelah pernyataannya yang dianggap menghina viking dan suku Sunda. Pernyataan tersebut memicu kemarahan masyarakat, terutama dari kalangan penggemar sepak bola dan masyarakat Sunda.

Tidak butuh waktu lama bagi pihak berwajib untuk menangani kasus ini. Tim Reserse Siber Polda Jawa Barat berhasil menangkap Resbob di Semarang, Jawa Tengah, pada Senin malam (14/12). Selain itu, kampusnya, Universitas Wijayakusuma Surabaya, juga memberikan sanksi berat kepada Resbob.

Pengambilan Keputusan oleh Universitas Wijayakusuma Surabaya

Rektor Universitas Wijayakusuma Surabaya, Nugrahini Susantinah, dalam sebuah video pernyataannya menyampaikan bahwa Resbob telah di-drop out (DO) dari kampus. Keputusan ini diambil karena tindakan yang dilakukan oleh Resbob dinilai tidak sesuai dengan aturan kampus.

“Memutuskan untuk menjatuhkan sanksi kepada Muhammad Adimas Firdaus Putra Nasihan, berupa pencabutan status sebagai mahasiswa UWKS atau DO,” ujar Rektor Nugrahini.

Dalam video pernyataan yang berbeda, Rektor Nugrahini mengungkapkan bahwa Resbob sebelumnya tercatat sebagai mahasiswa semester 3 di Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) Universitas Wijayakusuma Surabaya. Namun, ia jarang mengikuti perkuliahan secara penuh.

“Resbob memang betul dia adalah mahasiswa FISIP Universitas Wijayakusuma Surabaya semester 3, namun yang bersangkutan tidak mengikuti proses pembelajaran secara penuh,” tambahnya.

Penjelasan dari Kampus

Rektor Nugrahini menegaskan bahwa Universitas Wijayakusuma Surabaya tidak mentolerir tindakan yang mengandung unsur sara. Keputusan DO yang dijatuhkan kepada Resbob didasarkan pada Keputusan Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Nomor 324 Tahun 2025, tertanggal 14 Desember 2025.

Kampus ini memiliki kebijakan yang jelas terkait perilaku mahasiswa, dan setiap tindakan yang melanggar aturan akan diberikan sanksi yang sesuai.

Tanggapan dari Resbob

Sebelumnya, Resbob memberikan klarifikasi mengenai pernyataannya yang dianggap rasis. Dalam video klarifikasinya, ia menyampaikan permintaan maaf atas ucapan yang disampaikannya.

Ia berdalih bahwa ucapan tersebut disampaikan saat dirinya mabuk karena pengaruh alkohol. “Sekali lagi izinkan saya mohon maaf dunia akhirat, lahir batin, yang setulus-tulusnya,” ujarnya dalam video klarifikasinya.

Kesimpulan

Peristiwa ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab dalam menyampaikan pendapat, terutama di media sosial. Tindakan yang tidak bertanggung jawab dapat berdampak besar, baik secara pribadi maupun profesional. Universitas Wijayakusuma Surabaya telah menunjukkan komitmennya untuk menjaga lingkungan akademik yang sehat dan menjauhi tindakan yang tidak pantas.