Refleksi Kepemimpinan di Universitas Nusa Cendana

Setiap pergantian masa kepemimpinan selalu membawa perasaan yang khas. Ada sesuatu yang terasa seperti hembusan angin sebelum musim berganti, menghadirkan ruang kosong kecil antara ucapan syukur, harapan, dan kenangan akan perjalanan bersama. Di Universitas Nusa Cendana (UNDANA), momen ini menjadi awal dari babak baru dalam kepemimpinan. Setelah empat tahun kepemimpinan Prof. Maxs Sanam, kini giliran Prof. Jefri Bale untuk memimpin. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda, tetapi sama-sama membawa semangat untuk membawa UNDANA ke arah yang lebih baik.

Empat tahun lalu, tulisan sederhana berjudul “Pisang Goreng Telah Membangunkan Ku” menjadi awal tak terduga dari sebuah refleksi kepemimpinan. Tulisan itu lahir dari aroma pisang goreng yang mengepul di pagi hari, mengingatkan kita pada bagaimana sesuatu yang sederhana bisa membangunkan kita dari kebiasaan yang terlalu mapan. Kini, aroma itu seakan kembali muncul sebagai metafora dari kepemimpinan yang membangunkan, merangkul, memberi ruang, dan menuntun tanpa tekanan.

Prof. Maxs Sanam dikenal dengan kepemimpinan yang tenang, yang lebih suka bekerja daripada bicara, dan lebih memilih memberi ruang daripada menguasai ruang. Dalam teori kepemimpinan transformasional, hal ini disebut sebagai individualized consideration; kemampuan pemimpin untuk mengenali potensi, memberi kepercayaan, dan membiarkan setiap orang tumbuh dalam caranya sendiri. Kepercayaan ini mengalir dari pimpinan tertinggi ke setiap lini, menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan penuh kebahagiaan, yang akhirnya melahirkan kualitas dan prestasi.

Namun, kepemimpinan yang baik tidak hanya tentang masa lalu. Ia juga tentang bagaimana ia memberi pijakan kokoh bagi masa depan. Ketika tongkat estafet berpindah ke tangan Prof. Jefri Bale, UNDANA melangkah ke fase baru: fase percepatan, keberanian, dan transformasi yang menyentuh hati, struktur, cara berpikir, dan arah gerak institusi.

Prof. Jefri bukan sekadar rektor baru, tetapi representasi dari cendikia muda pemimpin kampus yang tidak lagi memandang dunia dari jendela kecil birokrasi, tetapi dari horizon luas pergulatan global. Ia sudah hafal medan, karena ia adalah anak kandung UNDANA sendiri. Karena itu, ketika ia berbicara tentang transformasi, kata itu tidak menggema kosong, tetapi memiliki tubuh yang kuat dan gagasan yang jelas.

Transformasi ideal tidak bisa dijalankan hanya oleh satu orang. Ia selalu sebuah perjalanan kolektif. Maka, pada masa awal kepemimpinan baru ini, penting untuk menyudahi berbagai belahan politik kampus. Sudah cukup retakan-retakan kecil itu menghuni ruang-ruang akademik kita. Biarlah semua perbedaan, rivalitas, dan kompetisi masa lalu tenggelam perlahan di kedalaman Telaga Senayan, tempat segala hiruk-pikuk kampus dari zaman ke zaman mereda dan mengendap seperti lumpur yang diredam ketenangan air.

Kini saatnya kita kembali menjadi satu tubuh akademik yang utuh. Saatnya kita mengayuh perahu yang sama, menuju pulau harapan yang sama. Kepemimpinan transformasional tidak bisa berdiri di atas sekat rasa. Ia hanya bisa tumbuh dalam kolaborasi, kepercayaan, dan optimisme.

UNDANA hari ini memikul tanggung jawab historis yang tidak kecil: menjadi salah satu pintu keluar terbesar Nusa Tenggara Timur dari ketertinggalan panjang. Banyak orang hanya mengenal NTT dari statistik buruk atau berita murung. Namun, kita yang tinggal di sini tahu bahwa di balik angka-angka itu ada potensi besar yang selama ini tertidur. Potensi itu membutuhkan institusi besar yang mampu menyalakan obor perubahan, dan itu adalah UNDANA.

Karena itu, kepemimpinan Prof. Jefri harus menjadi percikan api transformasi bukan hanya untuk kampus, tetapi juga untuk daerahnya. UNDANA harus mampu menjadi center of gravity pembangunan NTT, sebuah pusat gravitasi yang menarik gagasan-gagasan besar, riset berkualitas, kolaborasi nasional, dan inovasi yang membumi. Perguruan tinggi tidak boleh berjarak dari realitas rakyatnya.

Kampus harus menjadi laboratorium hidup bagi perjuangan sosial. Dunia akademik harus berjalan berdampingan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah makna keberkahan itu: ketika ilmu tidak hanya diproduksi, tetapi juga mengalir menjadi manfaat. Keberkahan juga berarti kampus hadir bukan sekadar sebagai mesin administratif, tetapi sebagai ruang yang menumbuhkan manusia.

UNDANA harus menjadi kampus yang inklusif, yang merangkul perbedaan, yang membuka akses seluas-luasnya bagi anak-anak muda NTT yang ingin memperbaiki hidupnya melalui pendidikan. Dalam pikiran saya, keberkahan itu akan terasa ketika lulusan UNDANA kembali ke kampungnya dan membawa perubahan; ketika penelitian dosen bukan hanya memenuhi angka kredit, tetapi menjadi bahan kebijakan publik; ketika inovasi mahasiswa menjadi solusi konkret bagi masalah air bersih, gizi, kemiskinan, peternakan, atau pengembangan desa.

Inilah UNDANA yang kita impikan di bawah kepemimpinan transformasional: kampus yang tidak sedang mengejar prestasi demi prestasi, tetapi kampus yang bermakna. Prestasi itu penting, tetapi keberkahan itu jauh lebih penting. Prestasi membuat kampus unggul; keberkahan membuat kampus berguna.

Akhirnya, mari kita bersama-sama mengantar UNDANA memasuki era baru: era keberanian, era produktivitas, era dampak, dan era keberkahan. Mari kita berjalan sebagai satu keluarga besar akademik yang tidak lagi terpecah oleh pilihan politik, tidak lagi terjebak dalam kompetisi kosong, dan tidak lagi kehilangan arah oleh hiruk-pikuk sesaat. Mari kita fokus pada sesuatu yang lebih besar dari kita semua: masa depan NTT, masa depan UNDANA, dan masa depan bangsa. Karena jika UNDANA unggul, maka NTT ikut terangkat. Dan jika NTT bangkit, maka Indonesia semakin kokoh berdiri. Transformasi itu, pada akhirnya, bukan hanya tugas rector; tetapi tugas kita semua.