Persiapan Bandara Mutiara Sis Aljufri Menuju Penerbangan Internasional
Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Sulawesi Tengah, kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi salah satu bandara yang melayani penerbangan internasional. Sejumlah fasilitas penunjang telah mulai dilengkapi, terutama di area terminal keberangkatan dan kedatangan. Hal ini menjadi fokus utama sebelum layanan internasional resmi dibuka.
Kepala Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Prasetyohadi, menjelaskan bahwa kesiapan fisik terminal merupakan kunci agar operasional dapat berjalan tanpa hambatan. Selain pembenahan fasilitas, bandara juga mulai mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung rencana tersebut. Menurutnya, sebagian anggaran renovasi terminal telah disiapkan tahun ini dan akan dilanjutkan pada awal 2026.
“Ini juga kaitannya dengan anggaran. Tahun ini kami sudah mengalokasikan sedikit anggaran untuk renovasi terminal Bandara Mutiara Sis Aljufri, dan akan dilanjutkan awal 2026,” ujarnya pada Selasa (9/12/2025).
Selain itu, Prasetyohadi menyampaikan komunikasi awal terkait rute penerbangan internasional. Beberapa pengusaha disebut berminat membuka jalur China–Palu–Morowali melalui koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
“Sudah ada beberapa pembicaraan melalui Pemprov. Ada beberapa pengusaha yang berminat melakukan penerbangan internasional dari China ke Palu, lalu ke Morowali,” katanya.
Namun, Prasetyohadi menegaskan bahwa waktu pembukaan rute internasional masih bergantung pada kesiapan fasilitas bandara, termasuk karantina, imigrasi, dan bea cukai (QIC), serta kesiapan maskapai yang akan beroperasi. “Kepastian mulainya tergantung kesiapan kami dalam menyiapkan terminal, termasuk QIC. Selain itu kesiapan maskapai, baik asing maupun domestik, juga menentukan karena ada sejumlah persyaratan yang harus diurus di pusat,” jelas Prasetyohadi.
Meski begitu, pengelola bandara menargetkan layanan internasional sudah dapat berjalan maksimal pada awal 2026. “Insya Allah kami upayakan pelayanan maksimal bisa berjalan di bulan April atau paling cepat Maret 2026,” pungkas Prasetyohadi.
Sejarah Bandara Mutiara Sis Aljufri
Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu memiliki sejarah panjang sejak pertama kali dibangun. Pada tahun 1954, bandara ini sebelumnya bernama Masowu dalam wilayah administratif Kabupaten Donggala. Nama Masowu dalam bahasa daerah Kaili berarti “Berdebu”. Kala itu, bandara hanya berupa lapangan terbang.
Nama lapangan terbang Masowu hanya dipakai dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun yaitu 1954-1957. Pada tahun 1957, lapangan terbang ini secara resmi beroperasi. Oleh presiden Republik Indonesia Soekarno diberi nama Lapangan Terbang “Mutiara”.
Pada tahun 2014, Bandar Udara terbesar di Sulawesi Tengah ini resmi berganti nama dari sebelumnya Bandar Udara Mutiara ditambahkan menjadi Bandar Udara Mutiara Sis Aljufri Palu. Perubahan nama itu sesuai SK Menteri Perhubungan Nomor KP 178 tahun 2014. Nama Sis Aljufri diambil dari tokoh besar di Sulawesi Tengah yang berperan dalam pencerdasan masyarakat melalui dakwah dan pendidikan.
Pengelolaan bandara juga beberapa kali berpindah tangan. Pertama Pemerintah Kabupaten Donggala (1963), sebelum akhirnya diserahterimakan kepada Departemen Perhubungan Udara/Direktorat Penerbangan Sipil dan Kepala Pelabuhan Udara Mutiara (28 Oktober 1964). Pada tahun 1995, Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu diklasifikasikan sebagai bandar udara kelas II kemudian naik menjadi kelas I pada tahun 2008.
Kini, Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu bakal menjadi bandar udara internasional berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 37 dan KM 38 Tahun 2025.

Tinggalkan Balasan