Tim Ekspedisi Patriot ITS Rekomendasikan Kelapa sebagai Komoditas Unggulan di Flores Timur

Tim Ekspedisi Patriot dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merekomendasikan kelapa sebagai komoditas utama di kawasan transmigrasi Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Rekomendasi ini didasarkan pada hasil riset intensif yang dilakukan selama empat bulan di empat kawasan transmigrasi di wilayah tersebut.

Riset ini merupakan kolaborasi antara ITS dan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas utama yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Peneliti menyimpulkan bahwa pengembangan sektor kelapa dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.

Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, menyambut baik hasil riset tersebut. Dalam pernyataannya kepada wartawan pada Jumat, 5 Desember 2025, ia menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi ITS dalam mendukung pembangunan berbasis data ilmiah. Ia mengatakan bahwa hasil riset ini sangat membantu dalam menentukan arah pembangunan sektor pertanian dan perkebunan, khususnya dalam mengidentifikasi produk unggulan petani lokal.

“Kami sangat mengapresiasi hasil riset dari ITS. Ini sangat membantu kami dalam menentukan arah pembangunan sektor pertanian dan perkebunan, khususnya dalam mengidentifikasi produk unggulan petani lokal,” ujar Ignas Uran.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah akan menjadikan hasil riset ini sebagai acuan dalam menyusun perencanaan pembangunan ke depan. Fokus utama akan diarahkan pada hilirisasi produk kelapa, mulai dari pengolahan hingga pemasaran, guna meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.

“Kelapa bukan hanya sekadar hasil panen, tapi bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti kopra, minyak kelapa, hingga produk turunan lainnya. Ini peluang besar bagi masyarakat,” tambahnya.

Potensi Besar Kelapa di Flores Timur

Ketua Tim 2 Ekspedisi Patriot ITS, Dede Rahmawati, menjelaskan bahwa kelapa memang telah menjadi komoditas utama masyarakat Flores Timur. Namun, selama ini pengelolaannya masih bersifat tradisional dan belum terintegrasi dengan sistem ekonomi yang kuat.

“Potensi kelapa di Flores Timur sangat besar. Tapi agar bisa memberikan dampak ekonomi yang signifikan, perlu ada lembaga ekonomi yang mampu mengelola dan memasarkan produk olahan kelapa secara profesional,” jelas Dede.

Ia menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, swasta, dan lembaga keuangan, untuk membangun ekosistem usaha kelapa yang berkelanjutan. Dengan begitu, masyarakat transmigran tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pelaku utama dalam rantai nilai komoditas kelapa.

Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah

Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah transmigrasi. Melalui pendekatan berbasis riset, diharapkan pembangunan tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal.

Langkah ITS ini menjadi contoh nyata sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah. Dengan menjadikan kelapa sebagai komoditas unggulan, Flores Timur berpeluang besar menjadi sentra industri kelapa yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Langkah Awal untuk Pengembangan Berkelanjutan

Untuk mewujudkan rekomendasi ini, diperlukan beberapa langkah awal, seperti:

  • Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan teknis dan manajerial.
  • Pembangunan infrastruktur pendukung, seperti gudang penyimpanan dan transportasi.
  • Penguatan kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Dengan strategi yang tepat dan komitmen yang kuat, Flores Timur dapat memaksimalkan potensi kelapa sebagai komoditas unggulan yang berdampak positif terhadap perekonomian daerah.