Penelusuran Kasus Curanmor di Mendalo, Kabupaten Muaro Jambi
Rahman, seorang pemilik rumah indekos yang juga korban pencurian kendaraan bermotor (curanmor), mengambil inisiatif untuk menelusuri keberadaan sindikat pencurian motor yang telah menghilangkan puluhan kendaraan di kawasan Mendalo, Kabupaten Muaro Jambi. Dengan cara yang tidak biasa, ia masuk ke sel Polsek Jaluko untuk memperoleh informasi dari para tersangka yang ditahan.
Dari pengakuan para tersangka, Rahman mendapatkan data awal tentang modus operandi dan jaringan pelaku. Informasi tersebut cocok dengan keterangan yang diberikan oleh pelaku. Hal ini membantunya dalam menelusuri sindikat curanmor yang diduga melakukan aksi sistematis.
Korban-korban curanmor tergabung dalam grup WhatsApp yang saling bertukar informasi. Dari sana, mereka menemukan dugaan kuat bahwa tindakan pencurian dilakukan secara terorganisir. Rekaman CCTV yang dikumpulkan dari beberapa aksi pencurian memberikan bukti tambahan. Misalnya, waktu operasi pelaku berlangsung di kisaran dini hari hingga subuh, serta pelaku mengenakan jaket dan bercelana pendek.
Selain itu, temuan lainnya adalah adanya kejanggalan pada rekaman CCTV. Kamera tidak merekam bagian pelaku membuka pintu garasi, tetapi baru merekam ketika pelaku sudah berada di dalam. Ini membuat Rahman menduga bahwa pelaku memiliki kemampuan teknis untuk menyadap sinyal kamera CCTV.
Dugaan Terhadap Jaringan Pencurian yang Terorganisir
Berdasarkan dugaan tersebut, Rahman kemudian menemui Polsek Jaluko untuk memperoleh informasi lebih lanjut. Dari Kanit Jaluko dan Kanit Pidum Polres Muaro Jambi, dia mendapatkan keterangan bahwa total motor yang berhasil dicuri mencapai delapan unit. Namun, dari jumlah tersebut, hanya satu unit motor yang berhasil ditemukan, yaitu motor milik seorang mahasiswa di kosannya.
Motor-motor yang hilang di tempatnya seluruhnya adalah Honda Beat. Sementara itu, motor yang tersisa pada malam kejadian adalah jenis Scoopy yang memiliki alarm, satu Yamaha matic, dan Honda Blade miliknya. Rahman mengatakan bahwa motor miliknya tidak diambil, mungkin karena kondisinya yang jelek.
Jawaban Mengejutkan dari Pelaku
Rahman mengaku nekat menemui dua tersangka yang kini ditahan, yakni Bed dan Eko. Dari keduanya, dia mendapatkan jawaban mengejutkan. Pengakuan Eko menyebutkan bahwa dirinya hanya seorang juru masak yang dijanjikan pekerjaan di Jambi. Ia dibawa dari Musi Rawas untuk bekerja di bengkel milik Hendri, terduga pelaku utama, pemilik bengkel di kawasan Simpang Tiga Telanaipura, Kota Jambi.
Namun, Eko mengaku disuruh antar motor dan akhirnya ikut terseret dalam kasus curanmor. Hal ini memperkuat dugaan bahwa jaringan pencurian ini terorganisir dan terstruktur.
Sendirian Menelusuri Komplotan
Setelah mendapat informasi dari polisi dan tersangka, Rahman sendirian melakukan penelusuran. Tempat pertama yang dituju adalah lokasi kontrakan dan tempat usaha H, terduga pelaku utama. Rumah kontrakannya ada di belakang Mitra Bangunan, dekat sungai. Menurut istrinya, H baru pindah ke situ dua atau tiga hari sebelumnya.
Setelah itu, Rahman memastikan keberadaan bengkel milik Hendri di Simpang Tiga Telanaipura, Kota Jambi. Bengkel masih buka seperti biasa, dan karyawannya tetap bekerja. Hanya Hendrinya yang tidak ada. Rahman juga bertemu pemilik kontrakan, dan semua informasi cocok dengan keterangan pelaku.
Hasil penelusuran ini membuat Rahman meyakini bahwa jaringan curanmor yang beraksi di Mendalo bergerak rapi dan tersusun. Pelaku bukan orang sembarangan. H paham betul dunia motor, kunci-kunci, dan modifikasi. Dia bisa saja menjadi otak untuk memudahkan jaringan mereka memasarkan motor curian.
Kesulitan Polisi di Sungai Nibung
Rahman juga menjelaskan keterangan polisi terkait kesulitan utama dalam pengungkapan kasus. Penyidikan polisi terkait curanmor Mendalo mengarah ke suatu tempat bernama Sungai Nibung, di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Provinsi Sumatera Selatan. Kata Kanit, motor-motor itu dibawa ke satu kampung bernama Sungai Nibung.
Masalahnya, kampung itu memiliki akses satu jembatan kecil. Begitu ada orang masuk, warga langsung memberi tahu pelaku. Jadi, polisi kesulitan masuk. Menurut penyidik, hampir seluruh warga di lokasi itu memiliki senjata api rakitan. Ini sangat berbahaya bagi keselamatan anggota jika masuk ke dalam. Maka, polisi menunggu pelaku keluar.
Warga dan Mahasiswa Dilingkupi Kekhawatiran
Setelah empat motor hilang sekaligus, Rahman mengaku warga kini hidup dalam rasa takut dan berharap adanya pengamanan lebih serius dari kepolisian. Rahman menilai perlunya pos polisi tambahan ataupun kehadiran tim patroli yang mobile di sekitar kawasan kampus yang padat aktivitas mahasiswa.
Harapan besar Rahman adalah agar polisi dapat segera menangkap Hendri serta dua pelaku lain yang masih buron, agar motor-motor milik mahasiswa maupun warga Jaluko bisa segera ditemukan. Ia merasa kasihan kepada anak-anak kos dan korban lainnya. Motor bukan sekadar kendaraan, tapi alat mereka untuk kuliah, kerja, dan kegiatan sehari-hari.
Modus Berubah-ubah
Kapolsek Jaluko, Iptu Chandra, mengatakan selama 11 bulan menjabat sudah ada puluhan laporan. Sejauh ini, delapan unit motor berhasil diamankan hasil kolaborasi Polsek Jaluko dengan Polda, Polsek Kota Baru, Polsek Jelutung, serta Polres Muaro Jambi. Penadah asal Musi Rawas turut ditangkap. Dua tersangka pencuri sudah ditahan, sementara dua pelaku lainnya masih dalam pengejaran.
Modus para pelaku berubah-ubah. Ada yang langsung membawa motor ke luar daerah menggunakan joki, ada yang menitipkan motor hasil curian di semak-semak sebelum dijemput mobil. Polsek Jaluko bahkan pernah menemukan motor KLX yang disembunyikan pelaku di semak-semak sebelum rencananya diangkut oleh penadah.

Tinggalkan Balasan