Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memperkuat permintaan pasar menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Meski momentum belanja akhir tahun biasanya menjadi peluang bagi sektor hulu, saat ini belum terlihat adanya peningkatan signifikan.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menyampaikan bahwa kondisi pasar belum pulih sepenuhnya. Ia menyoroti dominasi impor tekstil, seperti benang dan kain, yang masih menghimpit industri dalam negeri.

“Untuk Nataru tahun ini tidak ada dampak signifikan bagi sektor hulu. Bahkan sektor benang dan kain pun tidak mengalami peningkatan yang berarti. Pasar masih dipenuhi oleh barang impor,” ujarnya.

Redma menambahkan bahwa tingginya dominasi produk luar negeri membuat industri hulu kesulitan untuk memaksimalkan kapasitas produksi. Meski demikian, ia melihat sedikit perbaikan di tingkat ritel.

“Penjualan di retail sepertinya akan ada sedikit peningkatan. Meskipun persepsi kepercayaan konsumen sedikit meningkat, belum mampu mendorong daya beli secara nyata,” katanya.

Menurut Redma, peningkatan tersebut lebih bersifat musiman dan belum mencerminkan pemulihan mendasar. Di sisi lain, pelaku industri garmen tetap berusaha menjaga stabilitas harga agar tidak semakin memberatkan konsumen.

Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Textile Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, menjelaskan bahwa para produsen menghadapi tekanan biaya yang semakin tinggi. Kenaikan biaya bahan baku membuat pengusaha kesulitan menjaga margin keuntungan.

“Menahan harga jual di tengah kenaikan biaya bahan baku memang menekan margin jangka pendek,” ujarnya.

Namun, Anne menegaskan bahwa industri telah beradaptasi dengan beberapa langkah efisiensi. Banyak pelaku industri TPT melakukan efisiensi energi dan bahan baku, diversifikasi produk bernilai tambah, serta optimalisasi rantai pasok untuk menjaga daya saing tanpa harus menaikkan harga secara agresif.

“Strategi ini membantu produsen menjaga hubungan dengan pelanggan di tengah kondisi pasar yang belum stabil,” tambahnya.

Anne menambahkan bahwa transformasi industri saat ini tidak hanya fokus pada efisiensi jangka pendek, tetapi juga restrukturisasi untuk menghadapi persaingan jangka menengah.

“Dalam jangka menengah, transformasi menuju produksi berkelanjutan dan digitalisasi proses manufaktur diharapkan dapat memperkuat struktur biaya dan profitabilitas industri,” jelasnya.

Selain itu, pelaku industri juga berharap pemerintah memperketat pengawasan impor. Dominasi barang murah impor dinilai menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan permintaan di sektor hulu. Dengan pengawasan yang lebih ketat, momentum belanja Nataru diharapkan bisa memberikan manfaat lebih besar bagi produsen dalam negeri.