PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) atau INCO, yang merupakan bagian dari holding pertambangan Indonesia, Mining Industry (MIND ID), mengungkapkan tiga proyek utama yang akan menjadi fokus perusahaan pada tahun depan.

Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), Bernardus Irmanto, menjelaskan bahwa proyek pertama terkait pembangunan infrastruktur penunjang untuk Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Proyek kedua adalah pemurnian nikel Bahodopi yang berada di Morowali, Sulawesi Tengah, dan dibangun bersama GEM Co., Ltd – perusahaan manufaktur bahan baterai asal China. Sementara itu, proyek ketiga adalah pemurnian nikel Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang didirikan bersama Zhejiang Huayou Cobalt.

“Proyek-proyek ini memiliki nilai strategis dari berbagai sisi,” ujar Bernardus saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ketiga lokasi tersebut akan dibangun dengan smelter berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) atau teknologi Pelindihan Asam Tekanan Tinggi. Total investasi yang dialokasikan mencapai US$ 9 miliar atau setara dengan Rp 138,3 triliun (kurs Rp 15.730).

“Produk-produk dari pabrik HPAL yang kami bangun tersebut diharapkan bisa diserap oleh pasar dan menjadi material untuk baterai listrik,” tambah pria yang akrab disapa Anto tersebut.

Meski begitu, Anto mengakui adanya keadaan oversupply nikel tahun ini, sehingga Vale akan lebih dulu melakukan beberapa kajian untuk mengurangi risiko dari pengembangan.

“Maka PT Vale juga harus melakukan beberapa kajian untuk mengurangi risiko dari pengembangan. Jadi kita harus memahami pasar dengan baik. Kemudian berusaha menggunakan pengetahuan kami atas pasar itu untuk men-drive aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan,” jelasnya.

Adapun, Anto menyebut perseroan telah memulai penjualan bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi dan Pomalaa pada kuartal ketiga 2025.

“Hasilnya sudah kami nikmati bahwa di revenue stream—additional revenue stream—PT Vale di tahun 2025 ini akan ada selain nikel matte dari Sorowako, ada juga penjualan ore dari Bahodopi dan juga dari Pomalaa. Jadi ini menjadi upside yang menurut saya luar biasa,” ungkap dia.

INCO Chart

by TradingView

Setelah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 disahkan dan disepakati, dari Pomalaa Vale juga akan melakukan penambangan dan penjualan ore.

“Ini sambil menunggu pabrik-pabrik HPAL yang memang sedang dibangun ini selesai. Jadi di Pomalaa, Bahodopi itu kan kita menambang saprolit dan juga limonit,” kata dia.

“Limonit-nya nanti akan kami supply ke pabrik HPAL yang kami bangun bersama partner. Sementara saprolit-nya itu akan dijual ke pasar ya. Jadi itu menjadi additional revenue stream buat perusahaan,” tambahnya.

Anto pun menargetkan ketiga smelter ini dapat selesai pada kuartal ketiga tahun depan, secara bertahap.

“Mudah-mudahan, katakanlah, misalkan yang dari Pomalaa HPAL itu bisa kami selesaikan di kuartal 3 tahun 2026. Kemudian Bahodopi menyusul, kemudian yang paling akhir nanti adalah HPAL dari Sorowako,” tutupnya.