Penelitian Menarik tentang Daya Tahan Spora Lumut di Luar Angkasa
Para astronaut melakukan eksperimen yang menarik dengan mengikat 20 ribu spora lumut di bagian luar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama 283 hari. Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk menguji daya tahan spora terhadap kondisi ekstrem luar angkasa. Eksperimen yang dimulai pada 4 Maret 2022 ini menunjukkan bahwa sebagian besar spora tetap hidup dan mampu berkecambah setelah dibawa kembali ke Bumi menggunakan kapsul SpaceX.
Tomomichi Fujita dari Universitas Hokkaido, yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa lumut dikenal mampu bertahan di lingkungan ekstrem di Bumi, seperti Antartika, ladang vulkanik, dan gurun. “Kami bertanya-tanya apakah spora mereka juga bisa bertahan dari paparan luar angkasa, salah satu lingkungan paling ekstrem yang bisa dibayangkan,” ujarnya.
Eksperimen ini menjadi uji nyata pertama spora dari spesies Physcomitrium patens dalam kondisi luar angkasa sesungguhnya. Sebelumnya, studi hanya dilakukan dalam simulasi. Kelompok kontrol spora di Bumi memiliki tingkat perkecambahan 97 persen, sama seperti kelompok spora yang dipaparkan di luar angkasa tetapi dilindungi dari radiasi ultraviolet.
Temuan paling mengejutkan muncul dari spora yang menerima paparan penuh kondisi ruang angkasa—mulai dari vakum, suhu ekstrem, mikrogravitasi, hingga radiasi UV dan kosmik. Lebih dari 80 persen spora tersebut tetap hidup dan tumbuh menjadi tanaman normal. Berdasarkan hasil ini, tim memperkirakan sebagian spora dapat bertahan hingga 15 tahun di luar angkasa.
Fujita menggambarkan proses membuka sampel sebagai pengalaman yang dramatis. “Membuka sampel-sampel itu terasa seperti membuka kapsul waktu biologis, kehidupan yang telah bertahan dari kehampaan luar angkasa dan kembali dalam kondisi sepenuhnya berfungsi,” tuturnya.
Dia menambahkan, lapisan-lapisan dinding spora tampaknya memberikan perlindungan pasif terhadap tekanan ruang angkasa. Spora seolah berada di dalam pesawat ruang angkasa mini yang melindungi mereka.
Sebelum pengujian di ISS, para peneliti telah menguji bagian lain dari lumut dalam kondisi simulasi, namun tahap-tahap kehidupan non-spora umumnya tidak bertahan lebih dari beberapa hari hingga minggu terhadap radiasi, dehidrasi, atau perubahan suhu ekstrem. Fujita mengatakan kemampuan spora bertahan dari berbagai tekanan sekaligus menunjukkan ketahanan evolusioner yang memungkinkan lumut pertama kali menjajah daratan ratusan juta tahun lalu.
“Spora pada dasarnya adalah kapsul kehidupan yang ringkas, dorman tetapi siap aktif kembali saat kondisi menjadi menguntungkan,” katanya. “Seolah-olah evolusi membekali mereka dengan pod ketahanan kecil mereka sendiri, yang dibuat untuk menyebar melintasi ruang dan waktu.”
Temuan ini, Fujita meneruskan, tidak membuktikan adanya kehidupan luar Bumi. Tapi, penelitian memperkuat kemungkinan bahwa kehidupan yang sudah muncul bisa sangat tangguh.
David Eldridge dari University of New South Wales mengatakan tantangan utama berikutnya adalah menguji kemampuan spora untuk berkecambah dan bereproduksi langsung di luar angkasa. “Triknya adalah memeriksa laju pertumbuhan taksa ini di luar angkasa dan melihat apakah mereka dapat bereproduksi,” kata Eldridge.

Tinggalkan Balasan