Perjalanan Panjang Konferensi Perubahan Iklim COP30

Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Belem, Brasil, akhirnya berakhir dengan sebuah kesepakatan yang mencerminkan dinamika kompleks dalam kerja sama internasional. Meski hasil akhirnya tidak sepenuhnya memuaskan bagi semua pihak, proses penyusunan kesepakatan tersebut mengungkapkan tantangan yang dihadapi oleh komunitas global dalam menghadapi krisis iklim.

Pada jam-jam terakhir konferensi, Presiden COP30 Andre Correa do Lago mengingatkan delegasi tentang risiko kegagalan dalam mencapai kesepakatan. Negosiasi telah melebihi tenggat waktu awal, tetapi konsensus sulit diraih karena adanya perbedaan pendapat. Ini menjadi ujian penting bagi negara-negara dalam menunjukkan persatuan setelah kepergian Amerika Serikat dari Perjanjian Paris pada 2025.

“Mereka yang meragukan bahwa kerja sama adalah jalan terbaik dalam menghadapi krisis iklim akan senang melihat bahwa kita bahkan tidak mampu mencapai kesepakatan. Karena itu, kita harus mencapai sebuah kesepakatan,” kata Correa do Lago.

Kesepakatan yang Menyisakan Kekecewaan

Meskipun hampir 200 negara berhasil mencapai kesepakatan akhir, isi dokumen dan proses pembahasan menyisakan kekecewaan bagi banyak negara. Salah satu poin utama adalah peningkatan tiga kali lipat pendanaan adaptasi untuk negara-negara miskin yang rentan terhadap dampak pemanasan global. Namun, dokumen tersebut tidak secara eksplisit menyebut bahan bakar fosil sebagai penyebab utamanya.

Perjalanan dua minggu menuju kesepakatan diwarnai berbagai drama seperti aksi protes masyarakat adat, ancaman Arab Saudi untuk membatalkan kesepakatan jika industri minyaknya disentuh, serta penghentian sidang penutupan selama satu jam. Ketika palu diketuk, Correa do Lago menitikkan air mata.

Pengaruh Ketidakhadiran Amerika Serikat

Ketidakhadiran Amerika Serikat membayangi seluruh jalannya pembahasan. Negara dengan emisi historis terbesar ini tidak mengirim delegasi resmi setelah Trump menyatakan pemanasan global sebagai tipu daya. Hal ini membuat Uni Eropa dan negara lain kesulitan dalam membangun konsensus tanpa kehadiran Washington.

Komisaris Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra mengakui bahwa membangun konsensus tanpa kehadiran AS menjadi tantangan besar. Dalam pemerintahan sebelumnya, AS dan UE sering menjadi motor pendorong ambisi transisi energi bersih.

Dinamika Pemangkasan Bahasa yang Menguntungkan Industri Minyak

UE mendorong keras dimasukkannya bahasa yang memperjelas transisi dari bahan bakar fosil, tetapi akhirnya harus mengalah pada tekanan koalisi negara yang dipimpin Arab Saudi. Seorang perwakilan Riyadh mengatakan bahwa setiap bahasa yang menargetkan industri minyaknya berpotensi menggagalkan konsensus.

Hasil ini, ditambah minimnya langkah konkret untuk melindungi hutan, membuat banyak negara kecewa. “Sebuah COP Hutan tanpa komitmen soal hutan adalah lelucon yang sangat buruk,” kata negosiator Panama, Juan Carlos Monterrey.

Penilaian Positif dari Sejumlah Pihak

Meski ada kekecewaan, beberapa pihak menyambut baik capaian kesepakatan. Ilana Seid, Ketua Aliansi Negara-Negara Pulau Kecil (AOSIS), menyebutnya sebagai kemenangan bagi multilateralisme. Ia menilai ini sebagai peluang untuk menegakkan tujuan Perjanjian Paris.

Al Gore, mantan Wakil Presiden AS, menilai hasil COP30 sebagai lantai dasar, bukan langit-langit dalam upaya global menghadapi krisis iklim. Ia menegaskan bahwa meski negara produsen minyak berhasil memblokir penyebutan penghentian bahan bakar fosil, Brasil tetap akan memimpin upaya penyusunan peta jalan tersebut.

Tantangan Masa Depan

Ketahanan kerja sama iklim internasional akan kembali diuji ketika Brasil memimpin penyusunan peta jalan penghentian bahan bakar fosil dan mobilisasi pendanaan bagi negara berkembang. Aleksandar Rankovic, Direktur think tank The Common Initiative, menyatakan bahwa penutupan pembahasan di Belem mencerminkan konferensi yang tidak transparan.

Secara keseluruhan, COP30 menunjukkan bahwa meski ada kemajuan, masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam kerja sama global untuk menghadapi krisis iklim.