Latar Belakang Isu yang Muncul
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau lebih dikenal sebagai Gus Yahya, dihadapkan pada tekanan untuk mengundurkan diri. Hal ini muncul setelah adanya risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang beredar luas. Risalah tersebut ditandatangani oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, dan menunjukkan adanya pelanggaran serius terkait undangan narasumber yang dinilai memiliki keterkaitan dengan jaringan zionisme internasional.
Selain itu, isu tentang tata kelola keuangan yang dianggap bermasalah juga menjadi salah satu alasan utama dari desakan pengunduran diri Gus Yahya. Dugaan ini disebut memiliki potensi untuk mencemarkan nama baik organisasi. Permasalahan ini turut mendapat perhatian dari sejumlah media asing, yang memberikan laporan terkait situasi ini.
Tanggapan Media Asing
Al Jazeera, sebuah kantor berita yang berbasis di Doha, Qatar, melaporkan bahwa organisasi Muslim Indonesia menuntut kepemimpinan Gus Yahya untuk mundur. Berita mereka berjudul “Indonesian Muslim group tells leader to resign over pro-Israel speaker” yang terbit pada Sabtu (22/11/2025).
Dalam laporan tersebut, Al Jazeera menyebut bahwa Gus Yahya diberi waktu selama tiga hari untuk menyatakan mundur atau diberhentikan dari jabatan ketua umum. Alasan utama dari desakan ini adalah undangan kepada mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Peter Berkowitz, yang dikenal vokal dalam mendukung Israel dan menolak tuduhan genosida di Gaza.
Organisasi tersebut mengutip undangan Staquf kepada seseorang yang berafiliasi dengan jaringan zionisme internasional. Al Jazeera mencatat bahwa Gus Yahya telah meminta maaf dan menyebut undangan tersebut sebagai kekeliruan karena tidak memeriksa secara cermat latar belakang Berkowitz. Di sisi lain, media ini menyoroti pernyataan Sekjen PBNU Yusuf Saifullah yang meminta warga NU tetap tenang dan tidak terpengaruh berita yang berpotensi menyesatkan. Ia juga menegaskan bahwa polemik ini sedang diproses sesuai mekanisme internal.
Penjelasan Reuters
Reuters, sebuah kantor berita ternama, juga menyoroti peringatan pengunduran diri Gus Yahya dalam artikel berjudul “Indonesia’s biggest Islamic group asks chief to resign over invitation to pro-Israeli speaker” yang terbit pada Sabtu (22/11/2025). Reuters memasukkan isu dugaan salah urus keuangan sebagai bagian dari alasan desakan mundur Gus Yahya.
Dalam risalah rapat yang beredar, Syuriyah PBNU menyebut adanya indikasi pelanggaran terhadap ketentuan organisasi serta hukum syara’. Hal ini menambah beban kritik terhadap kepemimpinan Gus Yahya sebagai ketua PBNU. Reuters menegaskan bahwa undangan terhadap Berkowitz menjadi pemicu utama, terlebih karena ulama AS itu dikenal luas menulis dukungan terbuka terhadap kampanye Israel di Gaza.
“Keputusan tersebut terkait dengan undangan Staquf kepada mantan pejabat dan ulama AS Peter Berkowitz,” kata pejabat NU Najib Azca kepada Reuters. Reuters menulis bahwa Berkowitz memberikan seminar tentang sejarah pemikiran politik Barat dalam pelatihan NU bulan Agustus, sebelum kontroversi muncul.

Tinggalkan Balasan