Kisah Sukses Pemuda Yogyakarta dan Blora dalam Berwirausaha
Riyang Gati (26) adalah seorang pemuda asal Moyudan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang sukses menjalani usaha jualan rumput secara online. Nama lengkapnya adalah Riyang Gati, dan ia memiliki bisnis bernama “Bakul Suket Jogja”. Usaha ini berawal dari ide sederhana yang muncul akibat kegagalan panen padi di keluarganya.
Dulu, keluarga Riyang sering mengalami gagal panen karena serangan hama tikus. Saat itu, ia sedang menganggur dan mencari alternatif untuk mengisi waktu. Sawah yang tidak produktif itu awalnya hanya digunakan sebagai “bank pakan” untuk ternak kambing. Namun, karena rumput tumbuh melimpah, ia terpikir untuk menjualnya.
“Kalau tidak panen padi, panen rumput (suket) aja apa ya? di jual saja,” ujarnya menirukan ide awalnya. Ide ini semakin kuat setelah ia terinspirasi oleh penjual rumput di Blitar yang sudah lebih dulu menjalani usaha serupa.
Digitalisasi Usaha Rumput
Di lingkungan Riyang, banyak orang menjual rumput, tetapi kebanyakan masih menggunakan metode tradisional seperti penjualan dari mulut ke mulut. Riyang melihat peluang untuk mendigitalisasi dan memodernisasi usaha ini. Ia memilih nama yang sederhana dan mudah diingat, yaitu “Bakul Suket Jogja”.
Untuk menjangkau generasi muda, ia membuat akun media sosial dengan nama unik @suketin.id. Selain itu, ia juga menciptakan tagline yang menarik perhatian: “Suket Ora Trending, Tapi Suket Itu Penting” (Rumput Tidak Trending, Tapi Rumput Itu Penting). Tagline ini menyoroti pentingnya rumput, meskipun dianggap remeh.
Usaha yang dimulai pada akhir Oktober 2025 langsung viral, terutama di TikTok. Video tersebut telah ditonton hingga 410 ribu tayangan. Istilah “ngarit online” yang disebutkan dalam video menarik banyak komentar lucu dan interaktif, termasuk dari pembeli non-peternak. Hal ini menjadi peluang bagi Riyang untuk meningkatkan brand awareness produknya kepada khalayak luas.
Jangkauan Pelanggan yang Luas
Kebutuhan akan “Suket Online” ternyata sangat tinggi, terutama di kalangan peternak yang memiliki pekerjaan utama di luar rumah atau kantoran. Pelanggan Riyang juga banyak yang merupakan karyawan kantoran atau pekerja yang sering lembur, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mencari rumput (ngarit).
Pelanggan bisa memesan via WhatsApp dan mengambilnya setelah pulang kerja. Bisa juga diantar langsung ke lokasi kandang. Jangkauan pelanggannya pun meluas, bahkan sudah sampai luar provinsi DIY. “Terjauh pengiriman ke Tangerang,” tutur Riyang.
Dari target awal dua sampai tiga karung penjualan per hari, kini Riyang bisa menjual antara lima hingga delapan karung rumput per hari. Riyang meyakini bahwa bisnis rumput akan terus berkelanjutan karena peternak sangat banyak, dan kebutuhan pakan ternak adalah kebutuhan yang terus-menerus.
Kepedulian dan Pembelajaran
Usaha ini tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memperluas relasi dan pengetahuan. Riyang sering bertukar informasi dengan pelanggannya tentang cara merawat ternak. Kepada anak muda, Riyang berpesan untuk mencoba mencari peluang yang sekiranya dianggap mustahil oleh orang lain dan tidak perlu gengsi dalam bekerja.
Kisah Sukses Mahasiswa di Blora
Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan di bangku kuliah, Anindita Ravi Pamungkas (20) membuktikan bahwa mahasiswa juga bisa sukses berwirausaha. Mahasiswa semester lima Jurusan Teknik Mesin, Sekolah Tinggi Teknologi Ronggolawe (STTR) Cepu, ini menekuni usaha budidaya ikan nila dengan sistem Bioflok yang kini mulai berkembang pesat.
Bioflok adalah sistem budidaya ikan atau udang yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme (bakteri baik) untuk mengolah limbah organik di dalam kolam menjadi sumber pakan alami bagi ikan. Dengan kata lain, Bioflok adalah teknologi pengelolaan kualitas air yang mengubah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi massa mikroba (flok) yang bisa dimakan kembali oleh ikan, sehingga lebih hemat pakan, ramah lingkungan, dan efisien.
Anindita mulai menekuni budidaya ikan sejak 2023. Awalnya, ia membudidayakan ikan lele. Namun setelah melihat banyaknya pembudidaya lele di daerahnya, ia memutuskan beralih ke ikan nila yang dinilai memiliki prospek lebih besar.
Kegagalan dan Belajar Mandiri
Meski memiliki peluang besar, budidaya ikan nila ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Di awal usaha, Anindita sempat mengalami berbagai kegagalan. Pernah waktu awal tebar 1.500 ekor ikan nila, dalam waktu kurang dari lima menit semuanya mati. Pernah juga saat ikan sudah siap panen, listrik tiba-tiba padam dan genset lupa saya nyalakan, akhirnya aerator tidak berfungsi dan banyak ikan mati.
Kegagalan demi kegagalan tidak membuatnya menyerah. Ia terus belajar secara otodidak, memanfaatkan berbagai sumber informasi dari media sosial, YouTube, hingga kecerdasan buatan (AI). Dari proses itu, Anindita memahami kualitas air menjadi faktor utama keberhasilan budidaya ikan nila.
Hasil yang Menguntungkan
Saat ini, Anindita telah memiliki 17 kolam Bioflok dengan ukuran bervariasi, mulai dari 3 kubik hingga 24 kubik. Dalam satu siklus panen sekitar 3,5 bulan, ia mampu menghasilkan ikan nila sebanyak 2 hingga 4 kwintal per kolam. Hasil panennya dipasarkan ke berbagai tempat, mulai dari kolam pemancingan, warga sekitar, hingga restoran kecil di wilayah Blora.
Untuk harga eceran, ikan nila dijual Rp 33 ribu per kilogram, sedangkan untuk pembelian partai besar Rp 30 ribu per kilogram. Dari setiap panen, Anindita mampu meraup omzet antara Rp 3 juta hingga Rp 15 juta, tergantung hasil dan ukuran kolam. Menurutnya, hasil tersebut cukup menguntungkan meski masih berskala kecil.
Inspirasi untuk Anak Muda
Ketekunan Anindita menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani memulai usaha sejak dini. Dengan semangat belajar dan inovasi, ia berhasil membuktikan bahwa anak muda desa pun dapat menjadi pelaku usaha yang sukses di sektor perikanan modern.

Tinggalkan Balasan