Perjuangan Penenun Sumba Terdengar di Jakarta
Konferensi pers yang berlangsung di Sunset Pier, PIK, pada Sabtu (22/11/2025) menyimpan momen yang tak terlupakan. Suasana yang awalnya biasa tiba-tiba menjadi penuh haru ketika seorang perempuan muda bernama Narti dari Sumba menangis. Ia bukan artis atau model, melainkan wakil dari para penenun di kampung halamannya. Tangisan itu adalah bentuk rasa syukur karena hasil karya mereka akhirnya bisa dilihat oleh banyak orang di Jakarta.
Narti mengungkapkan bahwa selama ini, para penenun Sumba merasa cemas dengan kondisi yang semakin sulit. Kain tenun yang merupakan warisan budaya mulai sulit dipasarkan, dan banyak anak muda yang meninggalkan tradisi ini.
“Pemasaran di Sumba masih sangat minim. Belum ada yang mengangkat. Tenunan Sumba semakin menghilang, budayanya pun semakin hilang. Sangat disayangkan sekali,” ujarnya dengan suara bergetar.
Kondisi ini menjadi motivasi bagi lahirnya gerakan Matahari dari Timur (MDT) yang dipimpin oleh model Laura Muljadi. Tujuan utama dari gerakan ini adalah menjadi penghubung antara karya-karya penenun daerah dengan penghargaan publik yang lebih luas.
Laura menjelaskan bahwa acara “Aku, Wastra, dan Kisah” bukan hanya sekadar pameran fashion. Baginya, kain tradisional memiliki makna yang dalam.
“Wastra bagi kami dari Matahari dari Timur, itu bukan hanya sekadar kain. Tetapi di dalam wastra itu ada harapan, ada doa, ada kerja keras, ada masa depan. Semuanya itu ada di lembaran kain yang teman-teman pakai sekarang,” jelas Laura.
Setiap benang dalam kain tenun menyimpan makna yang mendalam. Di dalamnya terkandung doa seorang ibu untuk makan keluarga, menyekolahkan anak, dan menjaga identitas leluhur. Kehadiran Narti di Jakarta menjadi simbol bahwa perjuangan mereka mulai terlihat. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan.
Acara ini juga melibatkan musisi, desainer, dan seniman untuk memberi panggung lebih besar bagi wastra Indonesia. Mereka bekerja sama untuk memperkenalkan keindahan kain tenun kepada masyarakat luas.
“Itu semua kebaikan Kak Laura. Akhirnya Sumba, mama-mama Sumba, bisa sampai saat ini. Tenunan Sumba diangkat,” ujar Narti.
Sebagai penutup, Laura menyampaikan ajakan penting kepada generasi muda untuk bersama-sama mencintai dan melestarikan wastra Indonesia.
“Mari mengenal, mencintai, dan melangkah bersama untuk Indonesia,” tandasnya.
Keterlibatan Pihak Terkait dalam Gerakan Ini
Beberapa pihak yang terlibat dalam acara ini antara lain:
Musisi – Mereka turut serta dalam acara ini untuk memberikan nuansa musik yang sesuai dengan tema wastra.
Desainer – Mereka berkontribusi dalam menghadirkan karya-karya yang menggabungkan tenunan tradisional dengan gaya modern.
Seniman* – Seniman membantu memperkaya suasana acara dengan karya-karya visual yang mencerminkan keindahan budaya Indonesia.
Tantangan yang Dihadapi Para Penenun
Para penenun Sumba menghadapi beberapa tantangan dalam menjaga tradisi mereka. Beberapa di antaranya adalah:
Minimnya pasar – Kain tenun sulit dipasarkan karena kurangnya minat masyarakat.
Anak muda yang meninggalkan tradisi – Banyak generasi muda yang tidak tertarik lagi untuk belajar tenun.
Kurangnya dukungan* – Masih sedikit pihak yang peduli dengan kain tenun sebagai bagian dari budaya.
Dengan adanya gerakan seperti Matahari dari Timur, diharapkan dapat memberikan solusi untuk masalah ini. Acara “Aku, Wastra, dan Kisah” menjadi langkah awal untuk membangkitkan kembali minat terhadap wastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan