Penolakan Rujukan Pasien Gawat Janin di Jayapura
Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH) di Jayapura membantah adanya penolakan terhadap pasien rujukan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa mereka tidak pernah menolak pasien, tetapi hanya memberikan informasi mengenai keterbatasan kapasitas layanan yang tersedia saat itu.
Alasan Kapasitas Penuh
Menurut RSDH, layanan kritis seperti ruang Intensive Care Unit (NICU), ruang bersalin, dan keberadaan dokter spesialis tidak tersedia saat permintaan rujukan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kondisi penuhnya tempat tidur NICU serta cuti dokter spesialis Obgyn. Selain itu, koordinasi dengan dokter anastesi mitra juga membutuhkan waktu tambahan jika harus melakukan operasi darurat.
Pihak RSDH menjelaskan bahwa sejak awal mereka telah memberikan edukasi kepada petugas RSUD Yowari mengenai kondisi layanan dan ketersediaan dokter. Informasi ini diberikan sebelum pasien tiba di RSDH.
Kronologi Rujukan: Dokter Sudah Mengingatkan Sejak Dini Hari
Peristiwa dimulai pada Senin, 17 November 2025, pukul 00.08 WIT, ketika petugas Kamar Bersalin RSUD Yowari menghubungi RSDH untuk merujuk pasien. Dokter jaga RSDH kemudian meminta konfirmasi ketersediaan dokter spesialis anastesi, ruang perawatan, serta dokumen SOAP rujukan.
Pada pukul 00.16 WIT, RSUD Yowari mengirimkan foto surat pengantar ambulans. Setelah dilakukan pemeriksaan internal oleh bidan jaga RSDH, ditemukan bahwa ruang NICU telah terisi penuh oleh delapan bayi, ruang kebidanan juga penuh, dan dokter spesialis Obgyn sedang cuti.
Dokter spesialis anastesi mitra yang dapat dipanggil membutuhkan waktu koordinasi tambahan jika harus melakukan operasi darurat. Pada pukul 00.43 WIT, dokter jaga RSDH mengirimkan pemberitahuan resmi ke RSUD Yowari bahwa kapasitas layanan kritis untuk tindakan operasi sesar darurat (SC CITO) tidak tersedia, dan menyarankan agar pasien langsung dirujuk ke rumah sakit lain.
Namun, pada pukul 00.59 WIT, RSUD Yowari mengabarkan bahwa pasien sudah dibawa menuju RSDH.
Ambulans Tetap Datang, Minta Cap dan Edukasi Keluarga
Sesampainya di IGD pukul 01.10 WIT, petugas RSUD Yowari meminta dokter jaga RSDH memberikan cap rumah sakit dan mengedukasi keluarga pasien. Dokter kemudian menjelaskan secara langsung bahwa dokter Obgyn dan anestesi tidak siaga dan ruang perawatan penuh.
Setelah penjelasan diterima, pihak keluarga memutuskan melanjutkan rujukan ke rumah sakit lain. Dokter jaga kemudian menuliskan keterangan dalam surat pengantar ambulans sebelum kembali menangani pasien darurat lain yang sudah tiba lebih dulu.
Situasi di IGD sempat semakin padat ketika seorang ibu melahirkan di dalam mobil, sehingga bidan RSDH meminta ambulans RSUD Yowari memajukan posisi mobil agar penanganan darurat bisa dilakukan. Ketika petugas RSDH hendak kembali ke ambulans RSUD Yowari, mobil tersebut sudah meninggalkan area rumah sakit.
Manajemen RSDH menegaskan bahwa seluruh prosedur telah dijalankan sesuai standar dan tidak ada unsur penolakan pasien.
Keluhan Keluarga: Rujukan Berulang yang Berujung Tragedi
Di sisi lain, keluarga pasien menyampaikan versi berbeda. Menurut penuturan keluarga, Irene mulai merasakan sakit hebat sekitar pukul 03.00 WIT di Kampung Kensio. Setelah dibawa ke RS Yowari, ia disebut dirujuk ke RS Abepura namun tak mendapat pelayanan.
Keluarga kemudian menuju RS Dian Harapan, tetapi mengaku kembali tidak dilayani. Upaya terakhir dilakukan ke RS Bhayangkara, namun kamar penuh. Ruang VIP tersedia dengan biaya masuk Rp4 juta, sementara operasi disebut membutuhkan dana Rp8 juta. Keluarga tak memiliki biaya tersebut.
Irene kemudian dirujuk ke RSUD Dok II, namun meninggal dalam perjalanan bersama bayi yang belum sempat diselamatkan.
Akademisi Uncen: “Ini Peristiwa Luar Biasa, Dua Nyawa Hilang”
Dosen Universitas Cenderawasih, Fredy Sokoy, yang mewakili keluarga korban, mengecam keras kejadian ini. “Ini sangat miris. Di tengah kota dengan fasilitas lengkap, rujukan berulang-ulang tapi semua buntu,” tegasnya melalui keterangan tertulis, Kamis (20/11/2025).
Menurutnya, semboyan “keselamatan di atas segalanya” seolah tidak berlaku dalam kasus ini. “Dua nyawa orang Papua sama berharganya dengan seratus nyawa. Beginikah nasib rakyatku, mati karena alasan sederhana seperti ini?” ujarnya.
Keluarga Desak Investigasi Menyeluruh
Keluarga korban meminta pemerintah daerah, DPR Papua, dan lembaga terkait untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan penolakan layanan ini. Mereka menilai sistem rujukan kesehatan darurat di Jayapura mengalami kegagalan sistemik dan membahayakan masyarakat kecil.
“Jika ini terjadi di pedalaman mungkin kami bisa maklumi. Tapi ini terjadi di tengah kota,” kata keluarga.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan diharapkan menjadi titik evaluasi serius dalam pembenahan layanan kesehatan di Papua — terutama terkait respon cepat terhadap pasien darurat bersalin.

Tinggalkan Balasan