Pemprov DKI Jakarta Siapkan Anggaran untuk Normalisasi Sungai Ciliwung

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan membebaskan lahan di Kelurahan Pengadegan dan Cililitan untuk melanjutkan program normalisasi Sungai Ciliwung. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan bahwa telah disiapkan anggaran sebesar Rp 232 miliar untuk pembebasan lahan di dua wilayah tersebut.

Anggaran untuk Pembebasan Lahan di Cililitan dan Pengadegan

Menurut Pramono, wilayah Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, akan menjadi fokus utama dalam pembebasan lahan. Di wilayah ini terdapat 37 bidang tanah yang akan dibebaskan dengan alokasi anggaran sebesar Rp 111 miliar.

Selain itu, wilayah Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan juga akan menjadi target pembebasan lahan. Wilayah ini memiliki jumlah bidang tanah yang lebih banyak, yaitu sebanyak 54 bidang, serta alokasi anggaran yang lebih besar, yaitu sekitar Rp 121 miliar.

“Untuk yang menjadi tanggung jawab Jakarta, ada dua kelurahan. Yang pertama adalah Cililitan, ini ada 37 bidang, anggaran yang dianggarkan Rp 111 miliar,” ujar Pramono usai menghadiri acara Hari Bakti Pekerjaan Umum (PU) ke-80 di Jakarta, Jumat (21/11/2025).

Kerja Sama dengan Pemerintah Pusat

Pemprov DKI Jakarta telah melakukan pembagian tugas yang jelas dengan pemerintah pusat dalam proyek normalisasi ini. Pemprov DKI bertanggung jawab menyelesaikan masalah pembebasan lahan, sementara Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akan mengerjakan pembangunan fisik tanggul.

“Sinergi kerja sama ini saya yakin akan membuat Sungai Ciliwung menjadi lebih baik, lebih bersih,” ucap Pramono.

Rencana Pembangunan Kawasan TOD di Dukuh Atas

Tak hanya normalisasi, Pramono juga membocorkan rencana pembangunan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) di Dukuh Atas yang akan dimulai awal Januari mendatang. Proyek ini sekaligus akan mengintegrasikan transportasi umum dengan kawasan Sungai Ciliwung sebagai ruang publik baru bagi warga Jakarta.

“Awal Januari kami akan memulai melakukan pembangunan untuk TOD di Dukuh Atas sekaligus Sungai Ciliwung yang di bawahnya akan kami optimalkan,” ujar dia.

Penanganan Kerusakan di Hulu Sungai Ciliwung

Menteri Pekerjaan Umum Dodi Hanggodo menilai bahwa perlu ada pembenahan tak hanya di wilayah hilir, tetapi juga di hulu. Ia menyoroti warna air sungai yang cokelat sebagai indikasi tingkat sedimentasi yang parah akibat kerusakan di hulu.

“Apapun yang kita kerjakan, rehabilitasi seberapa besar pun, tidak akan bisa menangani kerusakan sungai ini karena akibat hulu yang rusak. Jadi hulu itu wajib kita kerjakan, kita jaga bersama-sama,” kata Dodi.

Program Normalisasi untuk Mencapai Jakarta sebagai Kota Global

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan kelanjutan program normalisasi aliran Sungai Ciliwung pada 2026.

“Pemerintah DKI Jakarta dalam tahun depan, kaki akan melanjutkan pekerjaan normalisasi Sungai Ciliwung yang belum terselesaikan,” kata Pramono dalam sambutannya di acara Susur Sungai Hari Bakti ke-80 Kementerian PU, Jumat.

Selain Ciliwung, Pramono juga menyampaikan rencana normalisasi Kali Krukut sepanjang 1,3 kilometer. Proyek ini dinilai krusial untuk menyelamatkan kawasan elit Kemang yang merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi di Jakarta dari ancaman banjir.

“Kami sekaligus juga akan melakukan normalisasi Kali Krukut, karena memang dua sungai inilah yang memberikan kontribusi kemacetan yang ada di Jakarta,” kata Pram.

Program normalisasi sungai juga menjadi salah satu fokus untuk mencapai target Jakarta sebagai Kota Global.