Penemuan Kasus Tuberkulosis di Jawa Barat yang Masih Menjadi Kekhawatiran
Jumlah kasus Tuberkulosis (TB) di Jawa Barat tercatat sebagai yang terbanyak di Indonesia. Dengan estimasi sekitar 234.280 kasus, namun berdasarkan pemeriksaan lapangan selama Januari hingga Mei 2025, hanya ditemukan sekitar 81.864 kasus atau sekitar 34,9% dari total estimasi. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak pasien TB yang belum terdeteksi.
Henry Diatmo, Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Indonesia (STPI), menyampaikan pentingnya menemukan pasien TB secepat mungkin agar penanganan dan pengobatan bisa segera dilakukan. Ia menjelaskan bahwa jika penemuan pasien TB terlambat, maka risiko penyebaran penyakit tersebut akan meningkat. “Jika pasien TB sudah ditemukan, maka orang-orang di sekitarnya yang berinteraksi dengan pasien harus diperiksa,” ujarnya.
Program Skrining Massal untuk Mendeteksi Pasien TB
Untuk merespons kondisi ini, STPI sedang menjalankan program skrining massal menggunakan X-Ray di beberapa wilayah di Jawa Barat. Wilayah tersebut antara lain Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendukung program nasional penemuan kasus aktif atau active case finding (ACF), yang menargetkan kontak serumah maupun kontak erat pasien TB.
“Pemeriksaan kontak erat tidak lagi menggunakan skrining gejala, tetapi menggunakan X-Ray yang kami fasilitasi,” kata Henry. Ia menambahkan bahwa salah satu kendala utama dalam program ACF nasional adalah ketersediaan mesin X-Ray yang tidak merata di semua wilayah. Oleh karena itu, STPI berupaya membantu memperluas akses ke layanan tersebut.
Langkah yang Dilakukan oleh STPI
Langkah STPI saat ini dimulai dengan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan di berbagai daerah. Selanjutnya, mereka akan melakukan ACF di pusat kesehatan masyarakat dengan jadwal harian. Selain ACF, STPI juga melakukan investigasi kontak (IK) yang menyasar orang-orang yang tinggal serumah dengan pasien TB untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Penyebaran TB yang Mengkhawatirkan di Jawa Barat
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan kekhawatiran terkait penyebaran TB yang mengkhawatirkan di Jawa Barat. Hal ini disampaikan dalam pertemuan bersama Gubernur Jabar Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu. Dia menyampaikan data pemeriksaan di lapangan selama lima bulan pertama tahun ini. Berdasarkan laporan Kemenkes hingga 16 November 2025, temuan kasus TB di Jawa Barat mencapai 189.532 kasus, setara dengan 80,9% dari target nasional.
Dokter Benny, demikian ia akrab disapa, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk memperkuat penemuan kasus aktif (ACF). Ia menyoroti pentingnya pemerataan penggunaan mobile X-ray dan TCM (tes cepat molekuler), serta penanganan stigma terkait TB dan kusta.
Capaian Pengobatan yang Masih Tertinggal
Meskipun capaian penemuan kasus TB di Jabar sudah cukup tinggi, capaian pengobatannya justru masih tertinggal dari target nasional. Untuk angka keberhasilan, terapi TB sensitif obat di Jabar disebut baru mencapai 80% dari target 90%. Adapun jumlah pasien TB resisten obat jumlahnya tercatat sebanyak 1.063 kasus dari target 2.866 kasus.
Selain itu, Jabar juga memiliki 4.763 pasien TB dengan diabetes mellitus dan 1.165 pasien dengan HIV. Bahkan tercatat ada 2.294 jiwa yang meninggal dunia akibat penyakit ini. Angka-angka ini menunjukkan bahwa penanganan TB di Jawa Barat masih membutuhkan perhatian serius dan langkah-langkah yang lebih efektif.

Tinggalkan Balasan