Andropause: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Andropause atau penurunan hormon testosteron pada pria adalah proses alami yang terjadi seiring bertambahnya usia. Namun, menurut dr Boyke Dian Nugraha, dokter seksolog ternama, kondisi ini bisa muncul lebih dini jika gaya hidup tidak dijaga dengan baik. Banyak pria muda mengeluhkan tubuh yang mudah lelah, libido yang menurun, hingga perut yang semakin buncit. Gejala-gejala tersebut justru berkaitan langsung dengan penurunan kadar testosteron.

Faktor Pemicu Andropause yang Perlu Diwaspadai

Menurut dr Boyke, penurunan testosteron memang wajar terjadi seiring bertambahnya usia. Namun, gaya hidup modern justru mempercepat proses ini. Banyak pasien berusia 35–40 tahun datang dengan kadar testosteron yang sangat rendah. “Testosteron memang turun alami, tapi kalau pola hidupnya buruk, penurunannya jadi besar sekali,” ujarnya.

Ia menyebut ada empat kunci pola hidup sehat yang harus dijaga agar produksi hormon tetap stabil dan pembuluh darah tetap sehat.

Pola Makan yang Sehat untuk Menjaga Keseimbangan Hormon

Pola makan memiliki peran penting dalam menjaga kadar testosteron. Dr Boyke menegaskan bahwa testosteron sangat bergantung pada asupan protein. Karena itu, pria dianjurkan untuk lebih banyak mengonsumsi daging tanpa lemak, seperti ikan dan dada ayam. Sebaliknya, makanan berlemak, santan, gorengan, dan gula menjadi pantangan utama.

“Makanan itu membuat pembuluh darah kaku dan aliran darah jadi tidak lancar. Padahal aliran darah yang maksimal sangat penting,” tegasnya. Oleh karena itu, mengurangi nasi putih dan menggantinya dengan pola makan lebih seimbang sangat dianjurkan, terutama setelah memasuki usia 30 tahun.

Pengaruh Rokok dan Vape terhadap Fungsi Hormonal

Salah satu penyebab terbesar menurunnya fungsi hormonal pada pria adalah nikotin dari rokok maupun vape. “Nikotin itu yang paling-paling membuat aliran darah tertutup,” kata dr Boyke. Penyempitan pembuluh darah akibat nikotin mengganggu aliran darah menuju organ vital, sehingga kemampuan seksual dan produksi testosteron ikut menurun.

Pentingnya Tidur Berkualitas untuk Kesehatan Reproduksi

Dr Boyke menyebut tidur sebagai bagian terpenting dari pola hidup sehat pria. Kurang tidur akan meningkatkan hormon ghrelin yang memicu keinginan makan dan ngemil berlebihan. Jika tidur kurang dari enam jam, risiko penyakit degeneratif meningkat, imunitas menurun, dan tubuh terasa loyo.

“Kalau tidur kurang, pembentukan sel-sel baru turun. Akhirnya badan jadi loyo,” jelasnya. Tidur minimal tujuh jam per hari sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Mengendalikan Stres untuk Mencegah Penyempitan Pembuluh Darah

Stres berkepanjangan memicu hormon epinefrin yang dapat menyempitkan pembuluh darah, baik di otak maupun area lain. Akibatnya, risiko serangan jantung, stroke, dan penurunan kesehatan seksual meningkat. Dr Boyke menyebut stres akibat ketakutan, kecemasan finansial, hingga penyesalan berlebihan dapat menjadi pemicu utama penyempitan pembuluh darah.

Tanda-Tanda Penurunan Testosteron yang Sering Diabaikan

Salah satu tanda penurunan testosteron yang paling mudah dikenali adalah perut buncit. Lemak perut akan mengalami proses aromatisasi menjadi estrogen, yang kemudian menekan produksi testosteron. “Karena itu banyak pria usia 35–40 tahun testoteronnya sudah rendah sekali,” pungkasnya.