Kondisi Siswa SMAN 72 Jakarta Pasca Ledakan

Pascapengalaman traumatis yang dialami siswa SMAN 72 Jakarta akibat ledakan di masjid sekolah, kondisi psikologis para siswa menjadi perhatian serius. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa dampak dari kejadian tersebut ternyata melampaui ekspektasinya. Banyak siswa yang kini merasa tidak nyaman dan memilih untuk pindah sekolah.

Peristiwa ledakan terjadi saat khotbah salat Jumat sedang berlangsung, disusul dengan ledakan kedua yang berasal dari arah berbeda. Akibatnya, sebanyak 96 orang mengalami luka-luka, beberapa di antaranya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Meski begitu, situasi saat ini masih dalam proses pemulihan, baik secara fisik maupun mental.

Upaya Pemerintah dan Sekolah

Untuk menangani kecemasan yang dialami siswa, Pramono Anung meminta pihak sekolah dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk segera menyiapkan langkah-langkah penanganan. Tujuannya adalah agar rasa takut dan cemas tidak terus berlanjut, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan lancar.

“Kita sudah minta kepada sekolah dan juga Ibu Kepala Dinas agar langkah penanganan ini dirumuskan secara matang,” ujar Pramono. “Saya tidak ingin dampaknya sampai panjang.”

Hingga kini, pembelajaran di SMAN 72 Jakarta masih dilakukan secara daring. Rencananya, pembelajaran daring akan berlangsung hingga Senin (17/11/2025). Setelah itu, pihak sekolah akan mengundang para guru dan siswa untuk memutuskan apakah pembelajaran akan dilakukan secara tatap muka atau tetap secara daring.

Masih Ada Siswa yang Belum Siap Kembali ke Sekolah

Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, hingga saat ini, pembelajaran di SMAN 72 Jakarta masih digelar secara daring. Ia menyebutkan bahwa belum semua siswa siap secara mental untuk kembali ke sekolah.

“Walaupun informasi yang saya terima, sebagian besar orang tua dan murid sebenarnya sudah siap untuk kembali belajar,” tambahnya. Namun, kemungkinan besar, pekan depan belum seluruh siswa siap secara mental untuk kembali ke sekolah.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Kemendikdasmen akan terus berupaya agar situasi kembali pulih dan siswa bisa kembali fokus pada pembelajaran. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pendampingan psikologis kepada siswa, guru, hingga orang tua.

“Trauma healing sudah kita laksanakan selama satu minggu. Kami dampingi sekolah melalui Zoom dan juga melibatkan para aktivis serta psikolog agar para murid dan guru bisa kembali ke sekolah dengan semangat yang sama,” jelasnya.

Langkah-Langkah Penanganan

Berikut beberapa langkah yang diambil oleh pihak terkait:

  • Pihak sekolah dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta diminta untuk merancang strategi penanganan yang efektif
  • Pembelajaran daring akan terus berlangsung hingga Senin (17/11/2025)
  • Pihak sekolah akan mengundang siswa dan guru untuk memutuskan metode pembelajaran berikutnya
  • Pendampingan psikologis diberikan kepada siswa, guru, dan orang tua
  • Komunikasi terbuka antara sekolah, siswa, dan orang tua terus dilakukan