Piodalan Tahun 2025 di Pura Agung Wanakertha Jagatnatha
Di bawah langit malam yang diterangi cahaya seribu pelita, suasana di Pura Agung Wanakertha Jagatnatha pada Rabu malam (5/11) berubah menjadi panggung spiritual dan kebersamaan lintas iman. Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., melangkah perlahan memasuki area pura, disambut hangat oleh ribuan umat Hindu yang telah memadati halaman utama sejak sore.
Mengenakan saput dan udeng putih di kepala, Anwar Hafid tampak larut dalam atmosfer sakral peringatan Piodalan Tahun 2025—sebuah momentum suci yang menandai hari kelahiran pura dan mempersembahkan puja kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di sisi beliau, sang istri, Ir. Sri Nirwanty Bahasoan, tampak anggun dalam balutan busana adat, selempang kuningnya berayun pelan diiringi tiupan angin malam Palu.
Piodalan malam itu bukan sekadar ritual keagamaan. Ia menjelma menjadi perayaan kebersamaan. Di antara denting gamelan dan harum dupa yang mengepul, tampak barisan tokoh lintas agama dan masyarakat hadir berdampingan—suatu potret harmoni yang jarang tersaji dengan begitu utuh di tengah dunia yang kian retak oleh perbedaan.
“Piodalan bukan hanya peringatan hari jadi pura,” ujar Gubernur Anwar dalam sambutannya dengan suara bergetar. “Ia adalah titian spiritual yang mengingatkan manusia akan keseimbangan: dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam.” Kalimat itu disambut tepuk tangan panjang, seolah menggema bersama mantra suci yang masih terlantun lembut di udara.
Dalam pandangan sang gubernur, Sulawesi Tengah tak hanya tumbuh dari program pembangunan fisik, tetapi juga dari fondasi spiritual masyarakatnya. Ia menyinggung program 9 BERANI—sembilan arah kebijakan pembangunan yang menekankan kesejahteraan dan keadilan sosial—sebagai pengejawantahan nilai-nilai universal seperti syukur, gotong royong, dan harmoni.
“Dengan fondasi spiritual yang kokoh, kita membangun bukan hanya gedung, tapi juga hati,” lanjutnya. “Piodalan mengajarkan kita tentang rasa syukur dan semangat bekerja untuk kemaslahatan bersama. Dari sini, Sulawesi Tengah belajar menjadi rumah yang nyaman bagi semua.”
Malam itu, aroma bunga kamboja berpadu dengan dupa dan alunan kidung Weda. Ribuan umat duduk bersila, memejamkan mata, memusatkan doa. Tak ada sekat. Pemerintah dan rakyat, pemimpin dan umat, berbaur dalam satu ruang suci yang diterangi nyala obor dan sinar rembulan. Di tengah hening itu, terasa makna sebenarnya dari kata “Bhinneka Tunggal Ika.”
Ketua PHDI Sulawesi Tengah dalam sambutannya menyebut kehadiran gubernur sebagai “tanda kasih seorang pemimpin yang memahami makna keberagaman.” Di saat banyak wilayah masih berjuang menjaga harmoni, Palu malam itu menunjukkan wajah Indonesia yang damai, teduh, dan bersahaja.
Anwar Hafid menutup sambutannya dengan ajakan sederhana namun kuat:
“Jadikan nilai luhur setiap agama sebagai cahaya yang menuntun langkah kita. Mari kita bangun Sulawesi Tengah dengan cinta, bukan dengan prasangka.”
Suara tepuk tangan kembali membahana, menandai kesatuan batin yang melampaui batas agama.
Ketika gamelan berhenti berdentang dan dupa mulai padam, suasana malam di Pura Agung Wanakertha Jagatnatha meninggalkan kesan mendalam—bahwa spiritualitas dan kepemimpinan bisa bertemu dalam ruang yang sama. Di balik upacara Piodalan yang khidmat, lahir pesan senyap: di tengah keberagaman, Sulawesi Tengah menemukan dirinya kembali—dalam kedamaian, dalam doa, dalam cahaya.
Kehadiran Gubernur dalam Perayaan Lintas Iman
Perayaan Piodalan Tahun 2025 tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk menunjukkan kerukunan antarumat beragama. Kehadiran Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., dalam acara tersebut menunjukkan komitmennya terhadap harmoni dan toleransi di tengah keragaman.
Selain itu, acara ini juga menjadi wadah untuk memperkuat ikatan antara pemerintah dan masyarakat. Dengan hadirnya para tokoh lintas agama dan masyarakat, acara ini mencerminkan keberagaman yang saling menghargai dan menjaga keharmonisan.
Gubernur Anwar Hafid menegaskan bahwa nilai-nilai spiritual harus menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pesan penting tentang pentingnya syukur, gotong royong, dan harmoni dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan membangun fondasi spiritual yang kuat, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang nyaman dan damai bagi semua. Hal ini menjadi landasan untuk membangun Sulawesi Tengah yang lebih maju dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan