Filosofi Bermain Menyerang Tetap Dipertahankan Meski Hasil Imbang

Pelatih Barcelona, Hansi Flick, menegaskan bahwa gaya bermain menyerang yang selama ini diterapkan oleh timnya tidak akan diubah meskipun hanya mampu meraih hasil imbang 3-3 melawan Club Brugge dalam pertandingan Liga Champions. Flick menekankan bahwa filosofi permainan yang telah diterapkan sejak awal musim tetap menjadi prioritas utama.

Pertandingan yang berlangsung di Stadion Jan Breydel berjalan sangat sengit. Barcelona harus berjuang keras untuk bangkit dari ketertinggalan sebanyak tiga kali. Semua gol yang dicetak oleh Brugge terjadi setelah tim tuan rumah berhasil memanfaatkan kelemahan dari garis pertahanan tinggi yang menjadi ciri khas permainan Flick.

Kini, Barcelona mencatatkan rekor terpanjang dalam sembilan pertandingan berturut-turut tanpa mencatatkan clean sheet. Taktik berisiko tinggi yang diterapkan oleh Barcelona kembali menjadi sorotan setelah hasil kurang menggembirakan di Belgia. Namun, Flick tetap optimis bahwa kerja keras dan intensitas tim di lapangan akan membantu mereka kembali ke jalur yang benar untuk meraih clean sheet.

“Kami bisa melakukannya seperti itu, yaitu kami melakukan (pertahanan) blok rendah dan bertahan di sepertiga pertama,” ujar Flick dalam konferensi pers. Ia menjelaskan bahwa timnya bisa memilih untuk bermain lebih konservatif, namun ia tetap ingin mempertahankan filosofi permainan yang telah diterapkan.

Flick juga menyampaikan pendapatnya mengenai gol pertama Brugge yang dianggapnya seharusnya offside. Ia mengatakan bahwa timnya mengalami kesulitan dan kurang percaya diri dalam pertandingan tersebut. “Kami bisa bicara tentang mengubah segalanya, tapi saya bukan pelatih (yang suka merubah filosofi) untuk ini,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Barcelona ingin bermain sesuai DNA mereka, bukan dengan blok pertahanan rendah dan transisi untuk menang 1-0. Meski skor 3-3 bukanlah hasil terbaik bagi Barcelona, Flick tetap mengakui bahwa timnya bangkit setelah setiap kebobolan.

Masalah di Lini Tengah

Flick juga menyoroti masalah di lini tengah, di mana timnya tidak cukup menekan bola dan gagal memenangkan duel, sehingga menyulitkan lini belakang untuk menghadapi pemain-pemain cepat lawan. “Kami harus memperbaiki itu, menganalisis semuanya. Kami akan berbicara dengan para pemain,” ujarnya.

Saat ditanya apakah ia akan mempertimbangkan perubahan minimal dalam taktiknya, Flick tetap pada pendiriannya dan berharap pemain yang kembali dari cedera akan membantu meningkatkan performa tim. “Ayolah, saya sudah menjawab dua pertanyaan sebelumnya. Itu bukan cara untuk berubah. Bukan seperti itu cara kami ingin bermain,” tegas pelatih berusia 60 tahun ini.

Flick menyadari bahwa saat ini bukanlah waktu terbaik untuk timnya, tetapi ia tetap optimis. “Kami sedang berusaha untuk itu dan saya pikir kami bisa bermain di level yang berbeda. Mungkin setelah jeda (internasional), ketika Raphinha, Joan Garcia, Pedri kembali dan juga Dani (Olmo) serta Robert (Lewandowski) mungkin juga berada di level yang berbeda, mari kita lihat saja nanti,” pungkasnya.

Hasil imbang yang diraih Barcelona di Brugge membuat mereka kini berada di posisi ke-11 klasemen Liga Champions dengan tujuh poin dari empat pertandingan. Hal ini semakin memperkecil peluang Blaugrana untuk langsung lolos ke babak 16 besar. Selanjutnya, tim asal Catalunya ini akan bertandang ke markas Celta Vigo di Stadion Balaidos, pada Senin (10/11) dini hari, dalam lanjutan pekan ke-12 La Liga. Barcelona berusaha menipiskan jarak dengan Real Madrid yang kini memimpin klasemen dengan selisih lima poin.