Mimpi Icha yang Menginspirasi
Di usia 16 tahun, Icha sudah memiliki mimpi besar yang melampaui dirinya sendiri. Sebagai pelajar SMKN 1 Rantau, ia tidak hanya berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Selatan XII untuk mengejar medali, tetapi juga demi niat tulus yaitu memberangkatkan ayahnya ke tanah suci.
“Kalau dapat emas, cukup buat biaya umrah ayah,” ujarnya, Selasa (4/11/2025). Bagi Icha, bertarung di cabang olahraga Sambo menjadi bahan bakar setiap kali ia melangkah ke atas matras.
Pada minggu (2/11/2025), Icha tampil di kelas 54 kg sport. Laga pertamanya melawan Murni, atlet asal Kabupaten Banjar. Icha tampil percaya diri sejak menit awal. Ketika lawan mencoba teknik gulungan, Icha justru membalikkan keadaan dengan melakukan bantingan dan tindihan sempurna. Skor 10-0 mutlak untuknya.
Namun di laga kedua, nasib berkata lain. Menghadapi Shaika Mulia dari Kota Banjarmasin, Icha harus menelan kekalahan dengan skor 8:0. Bantingan yang biasanya menjadi andalan tak lagi efektif.
“Tadi itu fisik lawan bagus terus saya coba serang, tapi gagal. Saat itu saya sudah sadar, mungkin belum rezeki bisa menang dan umrahkan ayah,” kata gadis kelahiran 29 Juni 2009 itu.
Selanjutnya pada perebutan medali perunggu, Icha berhadapan dengan Kayla Nur Hafija dari Kabupaten Balangan. “Tadi hanya butuh satu menit dan saya pakai teknik gulungan dan tindihan, nah alhamdulillah tadi skor nya 8-0,” ungkapnya. Pertarungan singkat itu menjadi pelipur lara. Meski bukan emas, Icha tahu perjuangannya tidak sia-sia.
Di sisi lain, jauh sebelum Porprov dimulai, Icha sudah menempa diri selama berbulan-bulan di basecamp Tim Meriam Banjar, Tapin. Icha bercerita bahwa hampir setiap hari ia berlatih, memperkuat fisik dan mematangkan teknik. Sebab dikabarkan Pemerintah Kabupaten Tapin memberikan bonus Rp40 juta bagi atlet peraih medali emas.
“Maka dari itu saya semangat betul, tidak ada hari libur, tak ada kata malas untuk latihan. Demi abah,” tuturnya. Dari nominal itulah membuat Icha berkhayal bisa mengantarkan ayahnya ke tanah suci.
Meski demikian, Icha hanya membawa pulang perunggu. Dia berharap semoga ada jalan lain ke depan untuk umrahkan ayah. “Semoga nanti ada aja jalannya buat umrahkan ayah. Ke depan saya ingin makin giat latihan biar bisa jadi atlet nasional Sambo seperti Kak Sonia Bulan dan Kak Ellyana,” pungkasnya.
Perjalanan Icha dalam Olahraga
Icha tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang tua yang telah memberinya dukungan penuh. Dalam latihan sehari-hari, ia selalu ingat akan tujuan utamanya, yaitu mewujudkan impian ayahnya. Hal ini membuatnya lebih gigih dalam berlatih, meskipun kadang menghadapi kegagalan.
Dalam dunia olahraga, kegagalan sering kali menjadi bagian dari proses belajar. Namun, Icha tidak pernah menyerah. Setiap kali ia kalah, ia selalu mencari cara untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuannya. Dengan semangat yang tinggi, ia berusaha keras agar bisa meraih hasil terbaik di setiap pertandingan.
Kehadiran para atlet nasional seperti Kak Sonia Bulan dan Kak Ellyana menjadi motivasi tambahan baginya. Icha ingin meniru kesuksesan mereka dan menjadi contoh bagi banyak anak muda di daerahnya.
Tantangan dan Harapan
Meski hanya mendapatkan medali perunggu, Icha tetap bangga dengan pencapaian yang ia raih. Ia tahu bahwa perjuangannya tidak sia-sia dan menjadi langkah awal menuju kesuksesan yang lebih besar. Ia percaya bahwa masa depan masih penuh dengan peluang, dan ia akan terus berusaha untuk mewujudkan impian-impian yang ia miliki.
Dengan tekad yang kuat, Icha berharap bisa terus berkembang dalam olahraga Sambo dan menjadi atlet nasional. Ia juga berharap ada jalan lain untuk bisa memberangkatkan ayahnya ke tanah suci, meskipun saat ini belum bisa terwujud.

Tinggalkan Balasan