Hujan deras yang terjadi pada akhir pekan lalu mengakibatkan kerusakan pada sejumlah tanggul di Jakarta Selatan. Sejak Kamis malam, 30 Oktober 2025, pemerintah provinsi mencatat setidaknya delapan titik tanggul mengalami kerusakan di kota administrasi tersebut.
Dari delapan tanggul tersebut, Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta mencatat bahwa lima titik tanggul roboh dan tiga titik lainnya longsor. Hujan lebat menyebabkan debit air di beberapa aliran sungai meningkat, sehingga berdampak pada kestabilan struktur tanggul.
Dinas SDA langsung menurunkan tim untuk melakukan penanganan darurat di seluruh lokasi yang rusak. “Saat ini kami fokus mencegah limpasan air agar tidak meluas ke pemukiman warga,” ujar Hendri, Sekretaris Dinas SDA Jakarta, dalam keterangan tertulis pada Senin, 3 November 2025.
Menurut Hendri, kerusakan tanggul di Jakarta Selatan disebabkan oleh tekanan debit air tinggi di Kali Krukut, Kali Mampang, dan Kali Penghubung (Phb.) Pulo. “Sedangkan longsoran terjadi akibat pengikisan dinding tanggul oleh curah hujan yang ekstrem,” tambahnya.
Berikut adalah daftar delapan titik tanggul di Jakarta Selatan yang rusak akibat hujan dan debit air tinggi:
Tanggul Roboh:
1. Tanggul di Kemang Village (Lippo Mall Kemang) dari aliran Kali Krukut, sepanjang 13,5 meter.
2. Tanggul Jatipadang, Pasar Minggu dari aliran Phb. Pulo, sisi Sabili sepanjang 25 meter dan sisi lahan kosong 25 meter (total 40 meter).
3. Tanggul di Kali Krukut segmen Plaza Bisnis Kemang, sepanjang 30 meter.
4. Tanggul di Jalan Kemang Utara IX, Mampang Prapatan dari aliran Kali Mampang, sepanjang 6 meter.
5. Tanggul di Jalan Taman Kemang Bangka (sebelah Wisma Anugraha) dari aliran Kali Krukut, sepanjang 3 meter.
Tanggul Longsor:
1. Jalan Kemuning, Pejaten Timur, Pasar Minggu dari aliran Kali Ciliwung, sepanjang 6 meter.
2. Jalan Gunuk Raya, Pejaten Timur, Pasar Minggu dari aliran Kali Ciliwung, sepanjang 14 meter.
3. Jalan Adityawarman, Selong, Kebayoran Baru dari aliran PHB Adityawarman, sepanjang 25 meter.
Dinas SDA Jakarta sedang melakukan penanganan darurat terhadap tanggul-tanggul yang rusak. Mereka memasang crucuk kayu dolken dan karung pasir sebagai langkah sementara untuk menahan debit air. “Pemerintah akan terus berkoordinasi lintas instansi untuk mempercepat penanganan di lapangan,” kata Hendri.
Selain itu, pihak Dinas SDA juga sedang melakukan evaluasi terhadap kondisi tanggul secara keseluruhan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua area rawan banjir mendapatkan perhatian yang cukup. Mereka juga menyarankan kepada masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari daerah-daerah yang dianggap rentan terhadap banjir.
Penanganan darurat ini diharapkan dapat mengurangi risiko banjir yang bisa terjadi akibat kerusakan tanggul. Dinas SDA Jakarta juga berkomitmen untuk terus memperbaiki infrastruktur tanggul guna menghadapi musim hujan yang sering kali berlangsung dengan intensitas tinggi.
Selain itu, pihak Dinas SDA juga sedang merancang program jangka panjang untuk memperkuat sistem tanggul di wilayah Jakarta Selatan. Program ini mencakup penguatan struktur tanggul, pembersihan saluran air, serta pembuatan sistem drainase yang lebih efektif.
Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan instansi terkait sangat penting dalam menjaga kestabilan lingkungan dan mencegah bencana yang bisa terjadi akibat cuaca ekstrem. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan Jakarta Selatan dapat terlindungi dari ancaman banjir yang sering kali mengganggu kehidupan masyarakat.

Tinggalkan Balasan