Kekurangan Guru di Sekolah Dasar YPK Ebenhezer, Raja Ampat

Di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, masih terjadi masalah kekurangan guru di berbagai sekolah. Salah satu yang mengalami krisis tenaga pengajar adalah Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Ebenhezer yang berada di Kampung Solol, Distrik Salawati Barat. Jarak dari pusat kota Waisai ke sekolah ini sekitar tiga jam perjalanan.

Guru Relawan SD YPK Ebenhezer Solol, Melkisedek Ap (44), menjelaskan bahwa kondisi ini sudah berlangsung selama sekitar 70 tahun. Ia mengatakan, dulu ada dua guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetapi mereka tidak menetap di Kampung Solol. “Benar dulu (guru PNS) ada tapi hanya dua orang, tapi mereka sudah tidak menetap di Kampung Solol,” ujarnya.

Melkisedek dan adik perempuannya memiliki tekad untuk menjadi relawan dan mengajar 72 siswa di SD tersebut tanpa mengharapkan gaji. Mereka merasa kasihan karena sekolah ini merupakan salah satu yang paling tua di Pulau Salawati dan telah melahirkan banyak generasi muda Raja Ampat. Namun, belakangan ini justru mengalami krisis tenaga pengajar kelas.

“Menang ada guru PNS tapi itu hanya Kepala Sekolah dan Bendahara, namun tak aktif,” katanya. Ia dan adiknya masing-masing mengajar tiga kelas setiap hari. “Pola ini sulit, tapi yang penting satu hari kasih pengetahuan ke anak,” tambahnya.

Sekolah tersebut telah mengajukan permohonan penambahan guru, tetapi hingga kini belum ada jawaban. Menurut Melkisedek, permintaan tersebut terkendala karena saat ini PNS hanya didistribusikan untuk sekolah negeri. “Permintaan agak terkendala, sebab sekarang katanya PNS hanya didistribusikan buat sekolah negeri,” ujarnya.

Selain kekurangan guru, SD YPK Ebenhezer juga mengalami keterbatasan fasilitas belajar seperti kursi, meja, perpustakaan, dan buku ajar. Plafon dan kaca sekolah pun rusak dan tidak diperhatikan oleh pemerintah. “Kami harap persoalan ini bisa diperhatikan Pemkab Raja Ampat,” katanya.

Pemuda Kampung Solol, Yohan Geissler Dimara (21), berharap pemerintah memberikan perhatian serius. Ia menilai, sekolah swasta seperti SD YPK Ebenhezer telah banyak melahirkan generasi muda yang berkontribusi bagi Raja Ampat dan Tanah Papua.

Masalah yang Mengancam Kualitas Pendidikan

Kurangnya guru dan fasilitas yang memadai menjadi tantangan besar bagi SD YPK Ebenhezer. Dengan jumlah siswa yang cukup banyak, sistem pengajaran yang dilakukan oleh Melkisedek dan adiknya sangat berat. Mereka harus mengajar beberapa kelas dalam sehari, tanpa bantuan dari guru lain.

Selain itu, kondisi fisik sekolah juga memprihatinkan. Banyak bagian bangunan yang rusak dan tidak diperbaiki. Hal ini tentu saja memengaruhi kenyamanan dan kualitas belajar siswa. “Plafon dan kaca sekolah bolong-bolong, tak diperhatikan pemerintah,” keluh Melkisedek.

Masalah ini tidak hanya terjadi di SD YPK Ebenhezer, tetapi juga di berbagai sekolah lain di Raja Ampat. Perlu adanya langkah-langkah nyata dari pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi pendidikan di wilayah tersebut.

Harapan untuk Masa Depan Pendidikan

Yohan Geissler Dimara berharap agar pemerintah lebih proaktif dalam menangani masalah pendidikan di daerahnya. Ia menilai, sekolah-sekolah swasta seperti SD YPK Ebenhezer memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang berkualitas. “Sekolah swasta banyak melahirkan generasi muda bagi Raja Ampat dan Tanah Papua,” ujarnya.

Dengan dukungan pemerintah, SD YPK Ebenhezer dapat menjadi model sekolah yang layak dan mampu memberikan pendidikan yang baik kepada siswanya. Tidak hanya itu, sekolah ini juga bisa menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di wilayah Raja Ampat.