oleh

Walau Berstatus PPKM Level 3, Acara Syukuran Dansa dan Tebe Marak Digelar di Belu

Belu. RajawaliNews.id –  Pemerintah Indonesia telah kembali memperpanjang kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk wilayah luar Pulau Jawa-Bali sejak Selasa 09 hingga Senin, 22 November 2021.

Hal ini tertuang dalam instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) nomor 58 tahun 2021 tertanggal 08 November 2021 yang ditanda tangani oleh Mendagri, M. Tito Karnavian.

Untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sebanyak 15 Kabupaten yang diberlakukan status PPKM level 3. Salah satunya adalah Kabupaten Belu. Dalam instruksi Mendagri disebutkan bahwa status pemberlakuan PPKM level 3 itu sesuai dengan kriteria level situasi pandemi berdasarkan asesmen oleh Kementerian Kesehatan.

Terkait Instruksi Mendagri diatas, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu nampak belum melakukan upaya dan kebijakan dalam penerapannya ditengah masyarakat Belu.

Pantauan media ini, Di Belu dalam beberapa hari belakangan masih marak diselenggarakan acara-acara syukuran pernikahan, sambut baru, dan acara adat yang mengumpulkan banyak orang disuatu tempat.

Acara syukuran yang dilanjutkan dengan tarian dansa dan tebe-tebe khas Belu oleh masyarakat Belu marak diselenggarakan hampir diseluruh wilayah Kabupaten Belu walau kini sudah memasuki musim penghujan.

Sementara dilain sisi, ada warga yang kembali menjadi korban akibat serangan Covid 19 di wilayah Belu. Ditambah buruknya penanganan korban covid selama beberapa bulan terakhir oleh pemerintah dalam hal ini para petugas covid 19 membuat kesan seolah pemerintah malas tau dengan ganasnya Covid 19.

Disadur dari Oke NTT, Informasi dan data yang diperoleh, sejak akhir bulan September 2021 hingga saat ini, jenazah pasien yang meninggal akibat Covid-19 tak lagi dimakamkan di TPU Masmae, Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barat seperti biasanya.

Tercatat, tiga bulan terakhir jenazah  pasien Covid-19 kurang lebih 6-10 jenazah yang tak lagi dibawa dan dimakamkan di TPU Masmae, melainkan diurus dan dimakamkan sendiri di masing-masing tempat oleh keluarga.

Terbaru, satu pasien diduga terkonfirmasi positif meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Atambua pada Jumat 19 November 2021 sore dan dimakamkan sendiri oleh keluarga keesokan harinya, Sabtu 20 November 2021.

Padahal stok liang lahat yang disediakan pemerintah sendiri melalui Satgas bidang penanganan jenazah di TPU Masmae masih tersedia

Selain dinilai tak serius tangani jenazah yang meninggal karena Covid-19, tidak ada pejabat yang berkewenangan yang ditunjuk pemerintah sebagai juru bicara (jubir) untuk menyampaikan ke publik terkait data update perkembangan Covid-19.

Sebelumnya, pejabat yang ditunjuk sebagai Jubir adalah Mantan Asisten Adiministrasi Umum Sekda Belu, Drs. Alfredo Pires Amaral, namun Pasca dinonjob, belum ada pejabat lain yang ditunjuk sebagai pengganti jubir Satgas Covid-19 di Kabupaten Belu hingga saat ini.

Oleh karenanya terkait kasus meninggalnya sejumlah  pasien baik di RSUD Atambua maupun di luar RSUD akibat atau dengan gejala Covid-19, media ini belum mengkonfirmasi pihak Satgas Covid-19 lantaran tak ada jubir sebagai pejabat yang berwenang.

Pasca dinonjob, Drs. Alfredo Pires Amaral, belum ada pejabat lain yang ditunjuk sebagai pengganti jubir Satgas Covid-19 di Kabupaten Belu hingga saat ini.
(*Espirito)

Komentar