oleh

Penari Likurai “Diancam Pimpinan”, Cipry Temu : Orang Bawa Nama Belu dan Indonesia Kok Ada Ancaman Segala

Atambua. RajawaliNews.id – Rombongan Ibu-ibu Penari Likurai asal Kabupaten Belu yang berjumlah enam orang akhirnya tiba kembali ke tanah air, Selasa 9/11/2021 setelah selama kurang lebih sebulan mereka sukses mementaskan tarian likurai dalam tour budaya mereka ke beberapa negara eropa.

Kepulangan mereka ke tanah Belu langsung dijemput masyarakat di batas kota Atambua untuk selanjutnya diarak memasuki wilayah kota dan kemudian menuju ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Belu.

Setibanya di Gedung DPRD Belu rombongan penari dan masyarakat penjemput langsung diterima oleh Pimpinan DPRD bersama beberapa Anggota yang hadir.


Terpantau, didepan pintu masuk Gedung Dewan, Ketua DPRD mengalungi selendang kepada para penari yang didampingi oleh Wakil Ketua 2 DPRD Belu Cipry Temu dan beberapa anggota DPRD yang hadir.

Dalam kesempatan bincang bincang itu, Pimpinan dan Anggota DPRD memberikan apresiasi terhadap penari ibu ibu Belu yang telah membawa Nama Kabupaten Belu ke Luar Negeri, bukan saja membawa Belu, tapi membawa Nama Indonesia

Terkait viralnya Surat Peringatan yang dikeluarkan oleh Pimpinan Sekolah yang beredar luas beberapa waktu lalu kepada salah satu anggota ibuibu Belu di medsos, Wakil Ketua 2 DPRD Ciprianus Temu menyesalkan tindakan itu dan berjanji akan melihat hal itu

“Orang sudah bawa Nama Belu dan kalau sudah diluar sana bukan hanya Belu tapi Negara Indonesia. Masa orang sudah bawa nama Belu dan Indonesia kok ada ancaman surat-surat segala, kami akan mempertaruhkan wibawa lembaga ini, kita akan berupaya semaksimal mungkin, dengan segala kebijakan dari lembaga DPRD dan salah satunya soal SP2 Bupati Belu terhadap ibu-ibu Belu yang masuk dalam Tenaga Kontrak Daerah”, Tegas Cipry.

Terpisah, kepada media ini salah satu perwakilan dari ibu ibu Belu, Rini Ratu Dabbo menjelaskan bahwa karya yang mereka pentaskan di benua eropa sana adalah tarian kontemporer.

“Karya yang kami pentaskan adalah karya kolaborasi antara tarian tradisi dan karya modern yang di mix, dimana isinya itu bukan hanya sekedar tarian likurai, tetapi kami juga membawa tais untuk kami promosikan disana, dan juga lagu daerah kita. Karenanya karya ini diberi judul nama ibu-ibu Belu of border, dimana ceritanya atau karya ini bercerita tentang bagaimana kehidupan perempuan di perbatasan”, Jelas Ibu muda ini penuh senyum.

Dirinya juga mengharapkan dukungan dan perhatian pemerintah karena semua yang mereka lakukan adalah untuk dan atas nama Kabupaten Belu tercinta.

“Kami tidak menuntut apa-apa, tetapi kami hanya meminta perhatian dari Pemerintah, perhatian itu dalam bentuk dukungan kepada kami, karena kemarin berangkat kesana bukan bawa nama kami, tetapi disana, kami murni membawa nama kabupaten Belu” Tutup Rinni penuh harap. (EES)

 

Komentar