oleh

Lagi!! Ruas Jalan Sabuk Perbatasan di Desa Kewar Yang Tidak Dihotmix, Nyaris Putus Total

ATAMBUA. RajawaliNews.id– Ruas jalan sabuk perbatasan Negara RI-RDTL yang melewati desa Kewar nyaris putus total akibat tanah longsor yang terjadi sejak Selasa, 1/02/2021 dan hingga hari ini tanah masih tetap bergerak ketika turun hujan.

Tanah longsor ini mengakibatkan badan jalan sabuk perbatasan yang menghubungkan desa kewar Kecamatan dan desa-desa sekitarnya dalam wilayah kecamatan Lamaknen nyaris Putus Total.

Seorang warga Belu asal desa Kewar Yan AB Junior, ketika dihubungi Media ini membenarkan bahwa Jalan sabuk Perbatasan atau akrab dengan sebutan Sabuk Merah di desa kewar longsor dan bisa putus total jika intensitas hujan masih seperti saat ini

“Benar, Jalan itu hampir putus. Kemarin saya ke rumah kewar  lewat jalan itu ukurannya hanya pas satu mobil saja, kalau curah hujan masih setiap hari dari pagi sampai ketemu pagi maka akan putus total. Kata Yan melalui whatsapp

Masih menurut AB junior, bahwa beberapa tahun lalu Pemerintah Kabupaten dalam hal ini seluruh OPD dilingkup Pemda Belu pernah melakukan kerja bakti penanaman ribuan pohon Mahoni di kiri kanan area ruas jalan yang longsor ini

“Pada tahun 2016 lalu pak Bupati dan Wakil bersama seluruh OPD naik kesana untuk lakukan penghijauan dengan menanam ribuan pohon mahoni dan lain-lain diarea tanah yang lonsor ini namun setelah pemerintah bantu tanam tidak dirawat dan dijaga oleh masyarakat akibatnya begini sudah”. Ucap Asa Bere Junior prihatin

Yan AB yang juga adalah seorang ASN di lingkup Pemda Belu ini menambahkan bahwa ruas jalan sabuk perbatasan yang nyaris putus ini berkisar kurang lebih 100meter dan memang dari awal jalan itu belum di hotmix oleh perusahaan yang menjadi pelaksana proyek sabuk merah.

“Jalan yang hampir putus itu memang belum dihotmix dari awal sampai sekarang. Kami kurang tau alasan kenapa belum dihotmix oleh kontraktor pelaksana proyek, mungkin bisa tanya langsung ke PT yang kerja itu. Jalan yang belum hotmix itu panjangnya berkisar 100meter” Kata Yan

Dibagian akhir, Yan Asa Bere menghimbau masyarakat harus menjaga alam dengan tidak menebang pohon sembarangan apalagi dipinggir tebing jalan raya karena akan berdampak seperti saat ini dan pemerintah desa harus menghidupkan kembali hukum adat dan larangannya seperti dulu agar masyarakat rajin menanam pohon dan takut menebang dan membakar hutan

“Kita masyarakat ini harusnya ikut menjaga lingkungan dengan rajin tanam pohon diwaktu hujan dan tidak tebang-tebang pohon dan bakar hutan untuk buat saat musim panas. Pemerintah desa harus hidupkan lagi hukum adat kita jaman dulu dengan semua larangannya, dahulu mana berani orang tebang pohon sembarangan karena takut denda adat, sekarang suruh tanam pohon minta bayaran, tebang pohon sembarang orang denda tanya balik aturan mana. Yah jadi itu masalah kita semua saat in”. Tutup yan sambil tersenyum getir.

Sementara pihak kontraktor pelaksana yang mengerjakan ruas jalan sabuk perbatasan RI-RDTL sampai berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi. (R-Timor)

Komentar