oleh

DPRD Belu Desak RSUD Atambua Tingkatkan Kualitas Pelayan Medis dan Butuh Dokter THT

Atambua. RajawaliNews.id. Komisi III DPRD Belu mendesak RSUD Gabriel Manek, SVD Atambua agar meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan medis kepada pasien. Desakan ini karena beberapa informasi dan pengelamanan langsung DPRD Belu ketika mendapatkan pelayanan medis dan perlakuan perawat. RSUD Atambua juga merupakan RSU Rujukan dan RS penyanggah regional dan keberadaannya di Perbatasan RI-RI seharusnya memiliki tenaga Dokter Spesialis diantaranya Dokter Ahli Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT).

Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPRD Belu Jumad (30/04/2021) menindaklanjuti permohonan audiens Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Atambua, terkait pelayanan RSU Atambua. RDP tersebut antara Keluarga Pasien yang mengadu,Ketua PMKRI, Okto Tefa dan anggota lainnya sebagai pendamping keluarga Pasien dan Pihak RSUD Atambua. Hadir anggota DPRD Komisi III dan rapat dipimpin Ketua Komisi, Yonahes Juang.

Kedua orang tua Pasien atas nama anak Gamaliel, Yusmel Pobas bersama istrinya diberikan kesempatan awal untuk menceritakan kronologis kejadian yang membuat ketidapuasan terhadap pelayanan medis saat itu hingga persoalan tersebut dibawah ke DPRD Belu.

Sementara itu dari pihak RSUD hadir Direktur RSUD Atambua, dr. Elen Batsheba Corputty, dr. Mega, Kabid Pelayanan RSUD, Siprianus Mali dan beberapa staff lainnya. dr. Mega yang disebutkan sebagai dokter yang menanggani kondisi pasien anak Gamaliel memberikan penjelasan medis terkait komplain dari keluarga pasien. Menurutnya, dirinya telah menjalankan tugas sesuai standar yang ada. Namun, dr. Mega menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien atas kejadian itu.

Bene Hale, anggota DPRD dari partai Golkar ketika diberikan kesempatan mengatakan bahwa dirinya menyampaikan terimakasih kepada PMKRI yang telah mengadvokasi masalah pelayanan RS ini hingga ke DPRD. Menurut Bene, ada informasi dan pengelaman dirinya yang merasakan perlakuan tidak baik saat ke RS. Bene baru dilayani dengan baik setelah petugas medis mengetahui bahwa dirinya adalah anggota DPRD Belu. Dari kasus itu, dirinya mendesak agar RSUD Atambua wajib meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien tanpa memandang status pasien.

Anggota DPRD lainnya, Januaria A. Walde Berek dari Gerindra menekankan pada kekurangan RSUD Atambua akan dokter spesialis. Menurutnya, kasus ini seharusnya tidak terjadi apabila RSUD Atambua memiliki tenaga dokter spesialis THT. Berulang-ulang dirinya menekankan agar komisi III sebagai mitra Pemerintah dibidang Kesehatan agar mengalokasikan anggaran untuk mendatangkan tenaga Dokter spesialis tersebut. Hal lainnya, Walde meminta Direktur RSUD agar melakukan pembinaan kepada dua orang perawat yang pada malam tersebut menanggani pasien.

dr. Ellen, saat diberi kesempatan mengatakan bahwa RSUD Atambua terus melakukan peningkatan kualitas pelayanan medis. Atas kejadian malam itu dr. Ellen menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien.

Merangkum semuanya, Yohanes Juang selaku ketua Komisi III mengatakan bahwa persoalan tersebut tidak perlu lagi dibesarkan. Dirinya meminta kedua pihak saling memaafkan. Namun dirinya mempertegas agar pihak RSUD terus mengevaluasi diri agar layanan medis kepada pasien lebih baik lagi kedepan. Sebagai ketua Komisi dirinya juga berterimakasih kepada PMKRI Atambua yang menjadi mediator antara keluarga dan RSUD Atambua.

Diberita sebelumya dikutip dari Goberita.id (22/04/2021) PMKRI Cabang Atambua melakukan aksi jalanan memprotes pelayanan Medis yang diduga buruk yang membuat pasien anak, Gamaliel, bertambah parah sakitnya. Selengkapnya kronologisnya adalah, Saat itu sekitar pukul 9 malam,  anak Gamaliel Pobas mengeluh sakit di kedua telinganya. Karena melihatnya kesakitan, maka kedua orang tuanya Yusmel (40) dan VB (33) langsung memeriksa liang telinga dengan menggunakan senter besar. Mereka melihat ada suatu benda yang diduga batu berada di dalam liang kedua telinga anaknya.

Karena itu, mereka memutuskan untuk membawa anaknya ke RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua untuk segera mendapatkan pertolongan. Sesampainya di RSUD, sang anak langsung dibawa ke IGD dan ditangani 2 tenaga medis perempuan dengan menggunakan alat Otoskop.

Setelah itu, kedua perawat itu melaporkan kepada dokter Mega dan diperiksa sendiri oleh dokter tersebut. Saat diperiksa oleh dr. Mega pada telinga bagian kanan, Gamaliel tiba-tiba berteriak kesakitan. Karena itu, dokter kembali memeriksa telinga bagian kiri Gamaliel. Gamaliel pun semakin meronta-ronta kesakitan dan menangis sejatinya karena dokter terlihat menekan menggunakan alat tersebut.

Sesudah itu dokter Mega, mendiagnosa bahwa tidak ada benda keras (batu) dalam liang telinga pasien melainkan infeksi/peradangan pada liang telinganya. Sang dokter pun lalu memberikan resep obat untuk diambil di apotek.

Akan tetapi Gamaliel semakin menangis. Ayahnya, Yusmel yang sedang menggendong sang anak pun sontak melihat bahwa cairan darah keluar dari dalam liang telinga bagian kiri. Yusmel pun langsung bertanya kejadian tersebut kepada dokter dan perawat yang ada saat itu. Namun dokter Mega memerintahkan perawat untuk menunjukkan alat medis Otoskop dan sembari berjalan mereka sembari berujar bahwa alat tersebut terbuat dari karet. Karena itu tidak berbahaya bagi telinga sang anak, apalagi melukai.

Sebagai orang awam, ayah Gamaliel merasa heran. Karena itu dirinya mengatakan bahwa bila tidak berbahaya maka dirinya akan pergi memeriksa lagi ke Rumah Sakit Sito Husada Atambua. Jika ada benda ataupun sesuatu telah terjadi pada anaknya, dirinya akan melaporkan hal tersebut sembari meninggalkan ruangan.

Namun mirisnya, pernyataan tersebut langsung ditanggapi oleh seorang perawat laki-laki yang baru muncul entah dari mana, “BAPAK MAU LAPOR DIMANA? LAPOR SAJA ! KELUAR DARI SINI !”.

Sebagai orang tua Yusmel dan istrinya semakin panik, keduanya bersama sang anak langsung beranjak menuju RS Sito Husada malam itu juga. Di sana mereka bertemu juga dengan dokter dan perawat yang coba menangani. Petugas medis di RS Sito Husada hanya memeriksa telinga bagian kanan dan mengatakan dugaan ada benda keras. Sementara telinga bagian kiri yang sudah mengalami pendarahan. Karena itu, mereka tidak berani menanganinya dan menyarankan untuk kembali dibawa ke dokter spesialis anak atau ke poli umum di RSUD Atambua karena keterbatasan alat.

Setelah itu, Gamaliel bersama kedua orang tuanya Yusmel dan istrinya pun kembali ke rumah. Namun, Gamaliel terus menangis karena sakit yang dialami pada telinga bagian kiri.

Keesokan harinya, (16/04) G dibawa  lagi oleh kedua orang tuanya untuk berobat ke Rumah Sakit Tentara (RST) Atambua.

Di sana dokter dan para perawat memeriksa menggunakan alat yang sama (Otoskop) dengan di RSUD Atambua dengan hanya menyenter dari luar tanpa melakukan tekanan apapun dan mengatakan bahwa rasa sakit di telinga anak Gamaliel dikarenakan kotoran telinga yang sudah membeku dan mengeras sehingga menyerupai batu.

Sedangkan untuk telinga bagian kiri dilihat ada gumpalan darah yang sudah mengering.
Oleh karena itu, dokter di RST Atambua menyarankan kepada kedua orang tua untuk membawa Gamaliel ke Kupang sehingga mendapatkan penanganan langsung dari dokter spesialis telinga.

Akibat kejadian itu, saat ini Gamaliel masih mengalami kesakitan dan bahkan kondisinya sedang panas tinggi serta ditakutkan akan terpengaruh pada Indra pendengarannya.

Atas pengeluhan keluarga Pasien, PMKRI Atambua mencoba melakukan audiens dengan pihak RSUD. Karena gagal audiens, maka dilakukan Aksi Jalanan dan RDP di DPRD Belu hari ini. YP.

Komentar