oleh

Diduga, Kampanye Hitam Calon Bupati Belu Agus Taolin : Marthen Naibuti Itu Anjing Dan Budak Cina, Dia Darah Dari Mana? Kita ini Anak Raja.

ATAMBUA. RajawaliNews.id – Suasana tahapan Kampanye Pilkada Belu 2020 ternoda dengan beredar luasnya sebuah video dalam bentuk rekaman suara di media sosial yang diduga adalah suara dari calon Bupati Belu dari Paket Sehati dr. Agustinus Taolin. Video rekaman suara ini menjadi sangat viral karena berisikan kata-kata kasar dan kotor juga ucapan rasis yang menghasut, menghina, menyerang, mengancam pribadi orang lain.

Video rekaman suara yang pertama kali di unggah oleh sebuah akun facebook dengan nama nona kipas ini kemudian menjadi sangat viral karena kata kata dalam rekaman itu terdengar menghasut, menyerang , menghina juga mengancam Marten Naibuti Anggota DPRD Belu kader dari Partai Gerindra yang mana saat ini partai gerindra tergabung dalam koalisi partai pendukung paket sahabat.

Entah apa alas permasalahannya namun terdengar jelas dalam rekaman suara yang diduga adalah suara Agus Taolin itu bahwa dirinya meminta kepada orang lain (dengan bahasa tetun) untuk menghadirkan Marthen Naibuti agar dirinya bisa mencungkil mata dari Marthen Naibuti.

“Kamu bisa tidak lawan Marthen Naibuti yang tidak sekolah itu, kamu panggil bawa dia datang kesini supaya saya tanya dia sekolah apa, dia KTP Mana, Dia keturunan dari mana, kamu musti lawan dia, pergi panggil dia bawa datang matanya saya bisa cungkil kasih keluar disini.” ucap suara mirip Agus tersebut diiringi gelak tawa orang orang.

Suara yang diduga milik dokter Agus Taolin ini juga menyebutkan “Marthen Naibuti itu seperti anjing peliharaan Cina yang bicara karena dikasih uang lalu ditarik untuk mengonggong kesana kemari, buat kita tidak tenang saja”.

Terdengar juga dalam rekaman itu kata-kata dokter Agus Taolin yang memuji diri lewat ucapan pendidikannya tinggi karena dia sudah sekolah hingga 3 kali dan mengaku adalah Keturunan anak Raja jadi paham adat serta tidak akan memperlakukan orang lain seperti anjing.

Tidak jelas kata- kata kotor dan rasis ini diucapkan dalam acara apa dan dimana namun apabila video rekaman suara ini adalah sehubungan dengan situasi kampanye politik saat ini maka jelas sangat bertentangan dengan sejumlah aturan terkait kampanye.

Bagian Keempat Pasal 280 ayat (1) UU Pemilu dan Pasal 69 PKPU Kampanye Pemilu mengatur mengenai larangan dalam kampanye diantaranya yaitu saat masa kampanye Pemilu, pelaksana, peserta, dan tim kampanye Pemilu dilarang :

a. Mempersoalkan dasar negara Pancasila, Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia
b. Melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
c. Menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau Peserta Pemilu yang lain
d. Menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat
e. Mengganggu ketertiban umum
f. Mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/atau Peserta Pemilu yang lain
g. Merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu
h. Menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan
i. Membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut selain dari tanda gambar dan/atau atribut Peserta Pemilu yang bersangkutan
k. Menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta Kampanye Pemilu.

Lebih lanjut diatur dalam Pasal 280 ayat (4) UU Pemilu, pelanggaran terhadap larangan ketentuan pada ayat (1) huruf c, huruf f, huruf g, huruf i, dan huruf j, dan ayat (2) merupakan tindak pidana Pemilu.

Adapun sanksi jika melanggar larangan dalam kegiatan pemilu yaitu dapat dipidana berdasarkan Pasal 521 UU Pemilu:

“Setiap pelaksana, peserta, dan/atau tim Kampanye Pemilu yang dengan sengaja melanggar larangan pelaksanaan Kampanye Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 280 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, huruf i, atau huruf j dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah)”.

Sampai berita ini diturunkan calon Bupati Agus Taolin belum berhasil dikonfirmasi media terkait kejadian memalukan yang terlanjur viral ini. (Rio)

Komentar