oleh

BUPATI LAY: Saya Tegaskan, Excavator Itu Untuk Pelayanan Umum Bukan Untuk Pribadi Saya

ATAMBUA, RAJAWALINEWS.ID -Polemik terkait pengelolaan excavator diklarifikasi oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay.

Willy Lay sapaan karib Bupati Belu kepada media di rumah jabatan, Jumat (4/9/2020) mengemukakan, pasca dilantik 2016 silam, ada kunjungan Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Belu.

Dalam kunjungan itu, Dirjen melihat tambak warga tidak begitu dalam. Hal itu terjadi karena keterbatasan peralatan. Kemudian Dirjen mengemukakan kalau butuh, ada excavator yang belum dibagikan. Karena itu, perlu ada proposal untuk mendapatkan hibah tersebut. Namun dalam perjalanan pengurusan administrasi, ada perubahan nomenklatur dimana tidak diperbolehkan adanya hibah oleh Pempus kepada Pemda. Hibah hanya diperbolehkan kepada kelompok masyarakat.

Melihat urgennya excavator itu, dirinya kemudian mengambil inisiatif untuk menghubungi Almarhum Romo Maxi Alo Bria untuk membentuk kelompok masyarakat, sehingga bisa mendapatkan hibah itu. “Romo menyetujui inisiatif itu kemudian membentuk kelompok Paroki Stella Maris Atapupu bersama beberapa masyarakat setempat,” tuturnya.

Alhasil, hibah tersebut diperoleh kelompok masyarakat setempat. Namun saat excavator tiba, Romo Maxi meminta agar dikelola oleh pihaknya, sebab selain tidak ada tempat penyimpanan juga terbentur biaya operasional dan perawatan yang tinggi.

Karena kondisi itu, Romo Maxi menyerahkan excavator tersebut untuk kemudian dikelola demi melayani kebutuhan masyarakat umum di Kabupaten Belu. “Saya tegaskan excavator itu untuk pelayanan umum, bukan untuk saya pribadi,” ungkapnya.

Dari pengelolaan itu, sejumlah permintaan warga dipenuhi, diantaranya penggalian sumur, tambak maupun dari sejumlah gereja.

Masih menurut Willy Lay, excavator yang ada, digunakan untuk kepentingan seluruh masyarakat Belu. Dan selama beroperasi, biaya operasional baik perawatan maupun biaya angkut berasal dari uang pribadinya.

Lebih lanjut dikemukakan, kerusakan excavator itu terjadi ketika sedang menggali sumur di STM Nenuk. Karena kerusakan tersebut, dirinya meminta agar excavator itu dibawa ke AMP Lelowai, agar diperbaiki oleh teknisinya. Namun karena belum adanya biaya, sehingga masih belum perbaiki. “Kita akan perbaiki excavator itu, untuk melanjutkan pelayanan kepada masyarakat. Untuk memperbaiki exca itu, saya masih usahakan uangnya,” imbuh bupati yang juga pengusaha sukses itu.

Terkait kerusakan exca itu, dirinya sudah informasikan kepada Romo Yoris Giri Pr. “Saya telepon Romo, kalau exca ada rusak. Jadi Romo Yoris tau itu,” paparnya.

Ditanyai tentang belum diserahterimakan dari Kementerian kepada kelompok, dia mengatakan saat penyerahan, sudah ditandatangani surat serah terima exca itu. “Siapa yang bilang belum ada surat serah terima. Surat serah terima juga diteken oleh Romo Maxi almarhum,” ujarnya bertanya sembari memperlihatkan copyan surat serah terima exca.

Pada bagian akhir dia mengemukakan, pihaknya tidak sedikitpun berpikir untuk menggelapkan exca milik kelompok tersebut. Jika ada pihak-pihak yang menuduh demikian, maka dirinya akan melakukan upaya hukum.

Untuk diketahui, pasca diterimanya excavator, begitu banyak permintaan untuk dimanfaatkan. Diantaranya penggalian sumur resapan Ainiba, pengerukan sejumlah tambak di Kolam Susuk, pembuatan tambak di SMK Perikanan Atapupu, kolam ikan dan gali sumur di kimbana, pelebaran lapangan Paroki Halilulik, pembuatan teras di kantor Camat Tasbar, pembuatan tambak ikan di Haekesak, pembuatan sumur di Asuulun, pembuatan penampungan air di Raiiukun dan pembuatan embung di Lelowai. Selain itu digunakan untuk menggali fondasi gereja Paroki Nela.

Selanjutnya, exca digunakan untuk menggali bak air dan akar pohon atau buka lahan baru di STM Nenuk, dan terakhir penggalian sumur di STM Nenuk dan terjadi kerusakan hingga saat ini. (*Rio)

Komentar